Pages

Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

HUJAN, HUNAIN, HUJAN!

Oleh: Rika Januarita Haryati

Kau pandangi hujan, Hunain. Hampir saja ia tak jadi turun. Menitik lembut. Kaupun cepat menganalisis dan berspekulasi. Tak mungkin kau terobos hujan. Langit telah menghitam. Sebentar lagi hujan menderas, Hunain. Dan benar saja, sepersekian detik berikutnya, titik-titik lembut pecah berdebam. Inilah hujan, Hunain.

Apakah kau masih ingat cerita hujan, Hunain? Saat Ia ingin memelukmu. Saat ia mengejarmu berkilo meter dengan sejuta peluh. Kau lari ketakutan. Ia terus mengejar. Sampai kau menyerah, lalu kuyup sekujur tubuhmu. Kau menggigil. Lalu kau menangis. Cinta macam apa ini? Aku tidak butuh, teriakmu lantang. Lalu hujanpun surut. Menghilang dari kehidupanmu.

Oh Hunain, di seberang negeri ini orang-orang mencari hujan. Mereka berdoa agar diceriakan hidupnya dengan hujan. Tangan mereka telah tengadah tinggi-tinggi ketika baru saja tercium aroma hujan. Mereka menyambut dengan segala rupa kesibukan. Menyiapkan ember-ember besar, bahkan kaleng-kaleng kerupuk karatan untuk menampung hujan yang masuk melalui celah atap yang telah usang. Lihatlah, saat hujan mereka berpesta di tengah halaman rumah. Saling memercikan hujan kepada yang lain. Pura-pura menghindar. Padahal kuyup sudah sekujur badan. Betapa romantisnya mereka terhadap hujan, Hunain.

“As samaa-u tumthirul aan*”, katamu kemudian. Lalu, apakah kau akan kembali menghindar, Hunain? Kau menggeleng perlahan, ragu. Kau membayangkan betapa menggigilnya saat hujan menusuk kulitmu. Namun kau berpikir bahwa sudah saatnya kau menerima hujan. Bunga yang kau tanam telah banyak yang layu dan mati, bukan? Tamanmupun kerontang.

Hei, hujan, Hunain, hujan. Kau pun sumringah. Memejamkan mata. Membayangkan kehangatan yang datang bersama guyuran hujan. Membentangkan harapan agar bunga-bunga kembali harum memekar. Berjanji ditengah percik berderai akan mencintai hujan dengan setulusnya. Menerbangkan doa-doa dan harapan yang mulai kau rajut dengan sabar.

Hujan, Hunain, Hujan! Ibarat emas yang tiba-tiba turun. Jika kau mengerti nilai emas, kau akan berlari memutirinya percik demi percik. Tak rela jika ada yang jatuh terhisap oleh yang lain. Tak suka, jika ia lama tak datang.

Hujan, Hunain, ia membawa kebaikan. Kebaikan bagi orang-orang baik. Ia itu tentara Allah, mana mungkin ia menyakitimu, bukankah begitu? Maka sudah selayaknya kita merayakan setiap pertemuan antara tentara Allah.

Hujan, Hunain, hujan! Ayo rentangkanlah tanganmu.

Note:

*langit hujan sekarang

Tugumulyo penuh butiran hujan, 17 Juli 2013 pk.15.00

Rabu, 17 September 2014

SUARA

Oleh: Rika Januarita Haryati

Oleh: Rika Januarita Haryati

Suara di pagi lembut menyapa.Suara embun bergelayutan. Suara daun jatuh malu-malu. Suara kecipak air disurau membasahi wajah. Suara ayam menawarkan persahabatan. Suara anak-anak berebutan mandi. Adapula suara meriam jatuh membentur dinding-dinding rumah.

Suara-suara berkobaran dikala siang. Suara kampanye menjual janji manis penuh siasat. Suara sapi-sapi memotong rumput yang kering. Suara sumbang biduan merayu. Suara kutukan, caci-maki penuh kebencian. Namun adapula suara khotbah khusyuk di ruang kecil di sudut bangunan mewah. Dimana suaramu? Kucari- cari suaramu nan merdu dan merindu.

Suara kelelahan di sore hari.Suara derum asap-asap membumbung ke angkasa. Suara klakson menjerit mengagetkan. Suara derap langkah pulang ke kandang. Suara serak habis berjualan. Suara malas penuh kepenatan. Suara kerinduan pada hipnotis rumah. Suara sendok dan piring beradu. Suara kecap bermacam-macam makanan. Suara sirine meraung. Aku suka suaramu.

Dari berjuta suara yang kudengar pada pagi, siang, sore dan malam, suaramulah yang paling kurindukan.Suara tegas namun berubah lembut syahdu menyentuh kalbu ketika tanganmu memangku Al Quran. Kau bicara segenap jiwa. Kau bernada dengan memberikan hak-hak yang sesuai pada semua huruf yang berjajar dan berangkai indah. Suaramu selalu mengingatkan pada suara gemuruh anak-anak kecil di Palestina. Mereka merencanakan bermain bola di tengah ancaman meriam. Mereka menyetor hafalan.Entahlah, apa hubunganmu dengan mereka. Tapi apa yang kau senandungkan di tiap kudengar selalu membuat jatuh lunglai. Suaramulah yang kurindui. Suaramulah penghilang dahaga. Suaramu selalu membuat jatuh hati.

Palembang, 25Agustus 2013 pk.15.23

Note:

Kemarin kulihat anak-anak muridku duduk melingkar. Mereka mengaji bergantian. Aku terpaku khusyuk mendengarkan. Pada hari itu aku mengajar dari jam kedua sampai jam kedelapan. Full time. Rasanya lelah dan berat luar biasa. Berjalan saja rasanya sudah hampir terhuyung. Tapi ketika mendengar suara mereka, aku tidak jadi pulang. Aku duduk terdiam. Kuresapi saja ayat-ayat yang beterbangan di udara. Benar-benar terasa sejuk dan menyejukkan jiwa. Trims ya.

Selasa, 09 September 2014

KITA DAN SEMESTA YANG BARU

Oleh: Rika Januarita Haryati

Waktu berganti, bumi berputar,alam raya memperbaharui diri. Pagi hari ini, bukanlah pagi yang kemarin. Ia pagi yang baru. Embun yang hadir kali inipun adalah embun yang baru. Dingin suhu pagi ini, juga baru. Jikalau mentari muncul di timur jauh, itu juga kemunculan yang baru. Setelah hari kemarin, yang terlihat pagi ini adalah hal yang baru.

Hari ini, daun-daun bertambah hijau. Buah menjadi semakin matang. Pohon-pohon bertambah keras. Batang dan cabang bertambah panjang. Tajuk terminal ramai menguncup. Putik-putik semakin semarak. Lihatlah, ini hari yang baru bukan?

Tapi bus yang lalu lalang kemarin, masih terlihat sama pada hari ini. Haltenya masih juga seperti itu kemarin. Mobil-mobil merangsek dengan kilau atau lecet yang sama, bahkan yang duduk di belakang kemudi masih sama dengan orang yang kemarin. Atau lihatlah lampu lalu lintas itu, bukankah tak berubah secuil pun? Lalu jalanan aspal ini juga masih sama. Lubang dan retak yang sama. Apanya yang baru?

Nah cobalah kau ingat, bukankah bus, halte, mobil, dan aspal itu telah diselimuti oleh malam? Siapa yang tahu apa yang terjadi dalam selimut itu? Aku sama sekali tak tahu. Tapi aku yakin,satu titik karat telah mendera besi-besi itu. Dan satu titik retak telah menganiaya aspal itu. Seberapa besar? Kecil sekali. Sehingga mata kita tak akan melihatnya sebagai suatu keganjilan.

Bagaimana dengan kita, apakah hari ini kita adalah manusia yang baru? Ya, kita adalah manusia baru yang dianugrahi hati yang baru. Tinggal nantinya apakah kita akan mengisi diri kita dengan hal-hal yang sama seperti kemarin atau justru yang lebih buruk. Yang terbaik tentu saja menjadikan diri kita benar-benar baru. Hati yang baru di hari yang baru. Pemikiran yang segar.Langkah yang tegar. Serta senyum yang mekar.

Tunggu, bagaimana mungkin kita dan semesta ini menjadi baru setiap hari yang baru? Umur kita bertambah begitu juga semesta ini. Kita menua. Semesta juga semakin kehilangan sinarnya. Lalu,dimana barunya?

Baiklah. Setiap hari, kita menjadi manusia yang baru. Saking barunya, mungkin rambut kita yang hitam sampai berubah putih. Kulit kita yang kencang menjadi keriput. Mata kita yang tajam menjadi kabur. Dan sesungguhnya itu adalah kebaruan yang akan dialami oleh sebagian dari kita.

Kebaruan tidaklah selalu bagi yang terlihat berkilau menyilaukan. Tidak pula seperti kita baru membuka sebuah bungkus dan kotak barang. Dikisahkan bahwa di zaman yang terbaru nantinya gunung-gunung akan beterbangan seperti bulu. Langit yang gagah akan terbelah.Bintang-bintang akan jatuh berserakan. Matahari digulung. Laut dipanaskan dan meluap. Kuburan-kuburan dibongkar. Pada akhirnya, itulah yang akan menjadi zaman terbaru bagi semesta.

Maka semakin menua kita, semakin baru diri kita. Semoga kita semakin bersiap menyongsong hari yang berganti menjadi lebih baru. Dan semoga kita tidak bertemu dengan hari yang paling baru yang menakutkan tersebut.

Palembang, 3 September 2013 pk. 20.30

Senin, 08 September 2014

NEKAD

Oleh : Rika Januarita Haryati

Semua orang pasti pernah melakukan suatu kenekadan.Pemicunya pastilah sesuatu yang krusial. Disekitar kita saja banyak orang-orang nekad. Ada baik dan ada yang buruk hasilnya. Tapi yang pasti, nekad itu cuma akan dilakukan oleh orang-orang berani. Entah pada akhirnya ia akan menerima konsekuensi kenekadannya dengan lapang dada atau dengan sempit dada. Menyesal atau justru bersuka cita. Ataupun malah akan menyesal jika seandainya tidak nekad.

Aku pernah nekad. Dengan melafadzkan basmalah, aku menerobos hujan hampir selama 150 menit. Hujan deras berganti gerimis, deras lagi. Apapun itu kenekadan ini mutlak dijalankan. Penyebabnya hanya gara-gara aku rindu rumah. Ingin segera mudik. Waktu itu sudah sore, tak ada lagi mobil.Tak perlu lama-lama berpikir, aku keluarkan motor dan segera meluncur kejalanan menuju kampung halaman. Yang kuingat waktu itu adalah: hujan ini tentara Allah, kita juga tentara Allah, maka nikmatilah harmoni pertemuan antara tentara Allah.

Nekad selanjutnya saat temanku berkata, don’t come in,our lecture is still angrying. His mood isn’t good right now. Maybe tomorrow will be okay to meet him. Aku menghela napas sebentar. Berpikir bahwa besok aku tidak bisa datang, karena sudah mempunyai janji dengan dosen-dosen yang lainnya ditempat yang jauh. Keadaan mendesak. Lagi-lagi dengan melafadzkan basmalah dan surat Tabarok(Al Mulk) aku masuk ke ruangan dosen tersebut. Minta tanda tangan. Well, apa yang terjadi? He was welcome to me. Dia menandatangani berkas-berkasku sambil bercerita mengenai organisasi di zamannya dan di zaman sekarang.

Nekad selanjutnya (zaman SMA) ketika discussion in group pelajaran bahasa inggris. Temanya tentang pemimpin yang layak diajukan untuk Indonesia.Ternyata kelompok yang maju tidak berurutan tapi diacak suka suka. Kelompok sebelumnya sudah mengajukan Yusril Ihza Mahendra for President. Selanjutnya kelompok kami. Masalahnya kami belum ada kesepakatan. Yang lain bilang terserah. Gue sih oke oke aja. So, siapa yang mau kita ajukan? Baiklah jikalau begitu kita harus nekad. Hanya bermodal sebuah buku tipis karangan Hidayat NurWahid kami maju mewacanakan tentang sosok beliau. Entahlah pada waktu itu aku merasa PD saja meskipun harus translate langsung dari bahasa Indonesia ke inggris.Salah benar grammar-nya itu nomor sekian. Dan tak disangka, ternyata diskusinya lumayan hidup. Ada temanku yang sudah cas cis cus sedemikian rupa, maklum jebolan LIA,pertanyaannya panjang sekali. Aku sampai melongo. Wow kerennya, batinku. Dari sekian meter panjangnya, cuma kuambil intisarinya saja. Dan kami jawab dengan singkat, lalu diujungnya kami tambahkan kata ‘are you satisfied?’ Dia mengangguk, yeah, I am satisfied, thank you. Wow, kata-katanya benar-benar melegakan.

Lalu, ketika harus meminta ujian susulan kepada dosen yang sudah jelas-jelas mengatakan tidak akan mengadakan ujian susulan. Beliau perempuan yang disegani sekaligus ditakuti oleh teman-teman seangkatan.Menghadap beliau dengan sebuah kesalahan adalah hal yang sangat mendebarkan. Tapi aku berpikir, coba dulu saja. Kalau beliau marah, dengarkan. Kalau beliau tidak memberi jadwal ujian susulan, terus saja tanyakan. Sampai beliau bosan, haha.Ternyata benar, beliau cuek-cuek saja setelah kuutarakan niatku. Beliau asyik dengan kesibukannya. Gawat. Baiklah aku mundur, angkat tangan alias nyerah. Aku undur diri dari hadapan beliau. Beliau menghentikan langkahku dengan mengatakan bahwa aku boleh ikut ujian dengan anak-anak yang kuliah di ekstensi. Masalah nilai beliau akan mengurusnya. Dan hari itu rasanya senyum simpulnya terasa manis sekali. It’s a miracle.

Kau tahu, banyak hal tak terduga yang dikandung oleh kenekadan. Ada baik, ada buruk. Hal-hal diatas adalah contoh yang sederhana. Banyak contoh lain yang amat luar biasa. Cerita orang-orang di sekitar kita.

Ini cerita pamanku. Aku memanggilnya Uju, karena ia paman yang bungsu. Ia anak Mapala, jebolan fakultas Hukum. Ia nekad melamar akhwat ( sebutan untuk perempuan yang punya kelompok pengajian atau yang mencoba ber-Islam dengan kaffah). Tentu saja lingkungan mereka berbeda 180derajat. Umumnya –tidak semua loh- anak-anak Mapala itu perokok, style yang kurang rapi, semau gue, hobinya keluyuran mendaki gunung. Sedangkan umumnya akhwat tadi tidak suka dengan perokok, suka yang rapi, perhatian, lemah lembut,kalau keluyuran biasanya untuk da’wah. Bahkan cara ngomongnya beda. Yang satu pakai gue-elo, yang satunya ane-ente. Lalu apa yang terjadi? Setelah berdiskusi dengan ustadzahnya, akhwat itu mengajukan beberapa syarat. Apapun syaratnya,saya terima, kata Ujuku. Well, akhirnya Barakallah. Sekarang Uju dan ammahku sudah dikaruniai 3 orang anak.

Selanjutnya, ketika sedang marak-maraknya kasus yang menimpa LHI, seorang admin di social media nekad meng-counter isu dengan membuat sebuah rekayasa berita. Hasilnya tentu saja buruk. Karena sudah mencemarkan nama baik seseorang. Bahkan menambah keruh suasana. Entah bagaimana solusi selanjutnya. Berani dan benar kurasa itu rumus paketnya jika ingin nekad. Jika salah namun nekad, jadinya membabi buta. Jika benar tapi tidak nekad ya jalan di tempat hasilnya.

Sebenarnya, di sebuah negeri antah berantah,presidennya yang keren sekali. Presiden yang dapat berbagai penghargaan dari mancanegara. Tapi sayangnya, kupikir beliau kurang nekad dalam mengelola bangsanya. Terlalu mendengarkan dikte negara lain. Dia sebenarnya baik, hanya kurang berani untuk nekad memimpin bangsanya dengan segenap jiwa raganya.Masalahnya, beliau hanya tidak nekad membatasi tangan-tangan asing yang merecoki pemerintahannya. Beliau sibuk dengan tekanan untuk menaikkan pamor partainya. Serta sibuk mengurus album lagu untuk nostalgia. Di negeri itu,beliau satu-satunya yang bergelar doktor. Sementara presiden pendahulunya ada yang hanya tamatan SMA.

Kenekadan selanjutnya adalah milik anak-anak Palestina.Bom setiap saat bertandang suka-suka di negara mereka. Tapi mereka tetap saja nekad mencari tempat agar bisa bermain bola. Setiap saat mereka mengatur strategi agar terhindar dari bom. Di negara mereka, bola disebut-sebut sebagai ‘perang pemikiran’ agar anak-anak lalai dengan hafalan Al Quran-nya. Tapi mereka tetap nekad bermain bola. Solusinya mudah, mereka menyetor hafalan baru kemudian bermain bola.

Lalu, orang yang korupsi itu juga nekad. Sudah tahu bukan hak-nya, nekad dijadikan hak-nya. Tentu saja kita sepakat bahwa hal itu adalah nekad yang salah kaprah. Hasilnya akan buruk untuk dirinya dan masyarakat luas.

Bagiku pribadi nekad itu perlu untuk hal-hal yang memang perlu diperjuangkan. Ngapain nekad kalau untuk urusan yang penting saja tidak! Jika kita telah mencobanya dan ternyata gagal, hati tetap bisa bergembira. Yah, jangan sampai kita akhirnya menyesal gara-gara tidak berani nekad.

Palembang, 1 September 2013

Minggu, 07 September 2014

WHEN YOU’RE ALONE

Oleh: Rika Januarita Haryati

Ketika kau sendiri, apa yang akan kau lakukan? Mungkin tidur, membaca, atau bersegara menuju keramaian? Well, kemanapun itu.

Ketika kau sendiri, sedang pikiranmu sedang kacau, apa yang akan kau lakukan? Tidur, makan, melamun, atau mencari sahabat untuk membagi kekacauanmu? Oh, maksudku membagi ceritamu tentang keresahanmu. Atau Meminta nasehat? Atau membaca membaca Al Quran?

Ketika kau sendiri, sedang keadaanmu sedang sangat berbahagia, apa yang akan kau lakukan? Segera menghubungi teman dan mentraktirnya makan. Datang ke rumah teman lalu menceritakan betapa bahagianya dirimu. Sholat, makan, atau malah tidur? Membaca atau menulis?

Ketika kau sendiri, lalu teman meneleponmu, apa yang akan kau lakukan? Membiarkannya. Menyambutnya. Menyambutnya untuk memarahinya karena telah mengganggu semedimu?

Ketika kau sendiri, sedang dirimu tak ada agenda keluar rumah, apa yang akan kau lakukan? Sibuk beres-beres rumah, cuci pakaian, cuci motor, motong rumput. Menata lemari, baju dan buku? Membaca dan menulis? Atau bernyanyi?

Ketika kau sedang sendiri,sedang kau sedang malas untuk melakukan apapun, apa yang akan kau lakukan.Duduk melamun? Tidur? Mengutuk diri sendiri? Membaca kisah tokoh-tokoh dunia? Menonton? Atau menyanyikan lagu sendu?

Ketika kau sedang sendiri,sementara kerjaanmu menumpuk, apa yang akan kau lakukan? Tidur. Menonton film lucu. Sibuk menuntaskan kerjaan yang menggunung. Atau malah pergi keluar rumah?

Ketika kau sedang sendiri,sedang kau sedang patah hati, apa yang akan kau lakukan? Menerawang. Tidur.Membaca kitab. Menulis. Atau menangis?

Ketika kau sedang sendiri, sedang kau rindu sekali pada kampung halaman, apa yang akan kau lakukan? Berimajinasi.Melihat foto keluarga. Segera meluncur ke kampung halaman. Berdoa. Atau menulis kisah kerinduan?

Ketika kau sedang sendiri,sedang kau tak mau sendiri, apa yang akan kau lakukan? Berharap agar ada teman yang menelepon. Langsung pergi ke luar rumah, ke toko buku atau ke rumah teman?

Ketika kau sendiri, lakukan apa saja yang tidak merugikan dirimu, orang lain dan alam sekitarmu. Jika pilihan jawabanmu yang terbanyak adalah tidur, mungkin pilihan yang bijak. Karena toh tidak ada yang dirugikan. Tapi jika porsinya terlalu mendominasi, maka kau sendiri yang akan rugi. Kerugian yang tidak kentara. Efeknya bukan sekarang.Tapi nanti, bagi masa depanmu.

Palembang, 8September 2013

Jumat, 05 September 2014

MENUNGGU

Oleh: Rika Januarita Haryati

Bagi sebagian orang, menunggu adalah kegiatan yang paling menjemukan sedunia. Menunggu teman karena memang janjian untuk pergi bersama. Tapi setelah jamnya lewat ia belum datang. Tak ada kabar berita bahkan nomornya tidak bisa dihubungi. Pasti kita berpikir bahwa ia mangkir. Atau kalau lagi bijaksana, kita akan berpikir bahwa ia sedang mendapat halangan untuk segera memenuhi janjinya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menunggu ketidakpastian? Banyak. Sesekali cermatilah orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kita. Maka akan kau temui rupa-rupa manusia. Ada yangterburu-buru. Ada yang santai sambil makan es krim. Ada yang nge-genk. Ada yang lesu. Ingatlah, bisa jadi kau pun pernah diperhatikan oleh orang lain juga. Saat menunggu seperti ini, aku lebih suka membaca atau mengamati orang-orang sekitar. Kadang juga sambil memikirkan suatu ide.

Menunggu juga merupakan suatu aktivitas yang menegangkan. Menunggu hasil ujian. Menunggu anak yang sudah mau dilahirkan.Menunggu hasil perhitungan suara. Menunggu seseorang pulang dari perang. Menunggu dengan kondisi seperti itu tentu sangat mendebarkan. Karena kita belum tahu bagaimana hasilnya. Kemungkinannya pun hanya dua. Sesuai harapan dan tidak sesuai dengan harapan. Hasil ujian bisa lulus atau gagal. Menunggu kelahiran anak, bisa selamat atau meninggal. Dan seterusnya. Yang spesial itu menunggu pahlawan pulang dari perang. Berdebar-debar hatinya sambil berharap. Jika ia datang,berarti ia kembali kepada orang yang menunggunya. Jika ia tidak pulang berarti ia syahid, kembali untuk menemui Robb-nya.

Ada pula jenis menunggu yang kita tidak perlu menunggu. Di depan rumahku ada pohon sawo. Kalau ia mulai berputik rasanya bahagia sekali. Apalagi ketika melihat saat buahnya lebat bergantungan. Kami tunggu dengan sabar kematangannya. Tentu saja kami yakin ia akan matang dengan sendirinya karena ia menyimpan hormon etilen. Maka kami tidak perlu dag-dig-dug menunggu ia matang. Kami biarkan. Bahkan sampai ia bosan berada di dahan lalu berjatuhan ke tanah.

Ada juga menunggu itu yang lucu. Menunggu seseorang yang tidak tahu itu siapa. Ditunggu berbulan-bulan. Ia tidak datang. Ketika tidak ditunggu, eh ia tiba-tiba datang. Dinanti-nanti ia tidak peduli. Giliran kita masa bodoh, hei ia ada di hadapan kita. Ini jenis menunggu paling aneh.

Menunggu bisa menjadi saat yang menyebalkan. Kita sudah duduk menunggu lama ternyata yang berjanji lupa kalauia ada janji. Dan itu terjadi berulang-ulang. Maka kita harus hati-hati kalau mau janjian dengan orang yang pelupa. J

Lalu, adakah orang-orang yang menunggu mati? Ada. Mereka sibuk mempersiapkan bekal untuk perjalanan setelah mati. Sehingga kapan pun kematian datang menjemput, ia telah siap dan ikhlas.Menunggu kematian terkadang justru membuat kehidupan seseorang semakin terarah.

Ya mau bagaimana lagi, setiap saat kita harus menjalani aktivitas menunggu. Meskipun hanya satu menit. Wajar jika dibanyak tempat disediakan ruang tunggu.

Aku ingin bercerita tentang mahasiswa tingkat akhir. Apa yang paling sering ia tunggu? Dosen. Mereka bisa menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari. Mungkin kalau mau melihat mahasiswa paling sabar, lihat saja mereka. Mereka mungkin mengeluh tapi ketika dosennya datang, wajahnya langsung berbinar terang. Lupa kalau ia sudah hampir mati suri gara-gara jengkel menunggu. J

Well, menunggu itu berkorelasi dengan kesabaran. Menunggu juga bisa menjadi ciri masyarakat terdidik. Menunggu dalam antrian misalnya, kalau tidak darurat tidak akan menyerobot. Antrian apa saja. Orang yang paling banyak menunggu bisa jadi ia memang sabar dan terdidik. Tapi ada juga orang yang sabar saja menunggu karena ia tidak bisa berani mengambil keputusan. Maka ia berharap orang lain yang memutuskan. Jika ada resiko, maka ia bisa tetap aman.

Tipe menunggu yang terakhir adalah menunggu besok. Setelah besok itu tiba, ia menunggu besoknya lagi,besoknya besok, besok dari besoknya besok dan seterusnya. Ini jenis menunggu yang terlarang. Ketika kau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore. Ketika kau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi.

Menunggulah untuk hal-hal yang memang pantas untuk ditunggu. Sementara itu, beraktivitaslah. Habiskan energi masa mudamu untuk kebaikan orang-orang di sekitarmu.

Palembang, 9 September pk 20.54

Kamis, 04 September 2014

BUNGA

Oleh: Rika Januarita Haryati

Bunga itu cantik. Warnanya cerah memikat. Ronanya memesona. Di tangkai ia berayun lembut. Menebarkan setiap jengkal wanginya pada angin yang menyapa. Kupu-kupu senang riang mengagumi si bunga. Begitupun kumbang. Bahkan terkadang semut pun tergoda.

Tapi tahukah kau bahwa bunga itu sebelumnya hanyalah daun-daun kecil? Seiring perjalanan waktu ia membesar menopang nutrisi untuk menciptakan bunga. Ia bekerja siang malam untuk menjaga agar akhirnya ia berbunga. Begitu rumitnya proses berfotosintesis dengan menggunakan reaksi terang. Saat malam lebih rumit lagi, karena ia harus tetap ‘berfotosintesis’ tanpa cahaya. Ia memasuki reaksi gelap. Untuk apa semua itu? Agar tetap bertahan hidup, demi si bunga yang cantik.

Lalu tahukah kau bagaimana para batang bekerja? Ia rela menjulang menerjang badai. Ia ikhlas tertampar angin.Tak mengapa ia tidak cantik, coklat saja tubuhnya atau bahkan legam.Retak-retak kulitnya karena usia pertumbuhan pun tak mengapa. Pada akhirnya, di ujung batangnya kan menyembul si bunga cantik idaman. Ia rela bersabar. Entah meski harus berapa lama. Tak peduli meski harus melewati beberapa musim. Jika si bunga cantik telah mekar, terbayarlah sudah segala macam kepayahan yang menyelimutinya dengan pekat. Oh bunga, engkau adalah penawar penderitaan.

Lalu, siapakah yang bekerja dengan sangat dahsyat. Teliti, detail, tapi tidak terlihat sama sekali? Dialah akar. Ia pun bekerja menjalar kemana-mana demi kekokohan si batang. Ia melata kemana-mana,demi mendapat air, unsur hara, garam mineral untuk kelangsungan hidup semua.Bahkan ia rela terlihat paling jelek, demi mencari unsur terpenting agar hormon pembungaan bekerja. Bahkan ia rela berada di tempat paling menjijikan. Di tanah, bahkan menusuk ke dalamnya.Bertemu para cacing. Berjumpa bakteri. Bersapa para mikrobia. Oh, jikalau bukan demi si bunga tersayang, manalah ia sanggup melakukan itu semua. Lalu, atas semuanya, tak ada satupun orang yang melihatnya. Tak ada yang memberi reward atas kerja kerasnya. Tersembunyi semua. Meski semua tahu, tanpa akar, jangankan bunga, pohon pun tak akan berani menjulang.

Bunga cantik hadir. Bergembiralah semua. Bahkan sepenuh taman bersuka ria. Kupu-kupu dan kumbang-kumbang turut meramaikan. Semua bercerita tentang si bunga. Cantik dan semerbak. Merona dan aduhai sungguh memesona. Semua tak ragu untuk datang dan mempersuntingnya. Si bunga disunting menjadi hiasan kepala para putri raja.

Maka, banyak orang tua yang menamai putri kesayangan mereka dengan nama si bunga cantik. Bunga, zahrah,zahwa. Semua berarti bunga. Mawar, melati, yasmin, wardah. Itu pun semuanya adalah bunga. Bahkan banyak orang yang melambangkan keindahan, cinta, dan kasih sayang dengan bunga.

Sungguh, aku sangat berharap mempunyai sebuah taman, meski harus kecil saja tapi dipenuhi dengan bunga.

Maka, kau, para muslimah, lebih cantik dari semua bunga yang pernah tumbuh di muka bumi. Perjuanganmu tak kalah heroiknya. Aku tahu, betapa susahnya menjaga kehormatan di zaman yang tak terlalu memperdulikan kehormatan. Tapi kalian berusaha sekuat mungkin. Sungguh, bahkan akupun menghormatimu yang selalu berusaha menjaga diri, berislam secara kaffah dan berusaha menjadi teladan bagi muslimah yang lainnya.

Palembang, 16 September 2013 pk.07.00 WIB

Rabu, 03 September 2014

MENGAPA HARUS CINTA?

Oleh: Rika Januarita Haryati



Jikalau kau cinta, seburukapapun dia kau takkan pergi meninggalkan. Bahkan berusaha dengan segala dayaagar ia menjadi baik. Perubahan memang banyak yang tak menyukainya tapiperubahan menuju arah yang lebih baik, maka semestapun akan mendukung.



Jikalau tak cinta, ia takcinta. Ditambah akhlaknya yang membuatmu tak mungkin cinta. Sudah jangandipaksakan. Ibarat tangan hendak memeluk gunung. Sudah tiada kebaikan. Sulituntuk mengusahakan sesuatu tanpa cinta. Sudah kau tak suka akhlaknya ditambahkau tak cinta. Repot jadinya. Karena harus mengusahakan cinta dan mengusahakankebaikan akhlaknya. Hidupmu akan berputar-putar di sana. Apalagi jikalau ternyata tak adaperubahan. Kau bisa putus asa.



Kau tak cinta, tapi ia cinta.Sedang akhlaknya tidak terlalu kau suka. Tidak terlalu buruk memang. Hanya sajakau agak keberatan. Hmm. Tanyakanlah padanya, apakah ia bisa menjalani kehidupan bersama dalam kebaikan.Apakah ia rela meninggalkan hal-hal yang tidak baik yang selama ini menjadikebiasaannya. Sungguh, siapa sih yang bisa menjamin janji manusia? Makatanyakan pada hatimu. Jikalau kau yakin, terimalah dan ikhlaslah. Jikalau kauragu, maka tegaslah dan katakan tidak. Kita hidup bukan untuk satu atau duahari. Tapi selama hidup, mungkin.



Kau tak cinta, tapi akhlaknyaluar biasa mempesona. Jangan tinggalkan. Terimalah. Kebaikan akhlak itu sungguhmerupakan terapi cinta yang sangat dahsyat. Seiring perjalanan waktu, padaakhirnya kau akan cinta. Bahkan akhlakmu pun akan sepertinya. Maka, sangatlahbijaksana nasehat yang mengatakan untuk menerima seseorang yang akhlaknya kauridhoi. Banyak hal menghipnotis dari prilaku yang mulia. Kau akan belajarbanyak. Kau akan benar-benar hidup. Tenanglah cinta itu bias kau bangun. Salahbesar jika cinta hanya pantas untuk membuatmu jatuh. Jatuh kepada cinta. Takmengapa jikalau harus memulai dari satu bata pertama. Yakinlah, fondasinya akankokoh sekali.



Kau cinta, seperti halnya dia.Rayakanlah. Bagaimanapun berkomitmenlah untuk bersama-sama membangun dalam cinta. Belajar menjalani kebaikan-kebaikan. Belajarlah taat dengan kecintaan.Hidup dengan kesadaran dan tanggung jawab. Saling menasehati dalam kesabarandan kebaikan. Itu jika kau dan ia benar-benar saling cinta. Maka muaranya pastilah menuju kebaikan.

Kau cinta padanya yang berakhlak mulia. Barakallah. Itu kecintaan yang sempurna. Kalian telah ada fondasi masing-masing. Tinggal menyatukannya. Tinggal membangun lebih tinggi,lebih besar dan megah. Cinta seperti itu bisa menjulang. Menjangkau langit,mungkin. Kehidupan yang susah payah takkan membuat kalian kehilangan cinta,justru akan tumbuh semarak. Kehidupan menyenangkan takkan membuat kalian terlena, justru semakin waspada. Visinya selalulah surga. Yang kalian bayangkan tentulah kebun-kebun dengan buah-buahan yang kalian sukai. Lalu dibawahnya mengalir sungai-sungai yang berisi minuman yang kalian sukai.

Mengapa harus cinta? Di dalam cinta ada keikhlasan jikalau ada yang kurang. Di dalam cinta ada kebahagiaan dari kepribadian yang mulia. Ada komitmen yang membuat langkah kita mantap menjejak bersama. Ada kesetiaan sehingga tidak tergoda pada yang lebih indah di seberang sana. Ada kepercayaan yang akan menyingkirkan segala keraguan. Ada kejujuran yang tak akan dinodai oleh kebohongan. Ada kebijaksanaan untuk menerima perbedaan pendapat. Ada ketulusan untuk saling melengkapi.

Yang pasti, di dalam cinta ada visi besar. Membangun peradaban umat. Ada misi yang panjang. Mendidik generasi qur-ani. Menyebarkan pemikiran-pemikiran yang baik. Menjalankan perintah agama. Menjauhi segala larangannya. Membangun sarana pendidikan. Berkontribusi dalam agenda kebaikan. Ini memang muluk, tapi begitulah seharusnya setiap cinta mengekspresikan dirinya.

Palembang, 17 September 2013 pk. 05.10 WIB

Selasa, 02 September 2014

RAJA DAN ULAMA

Oleh: Rika Januarita Haryati

Di zaman dulu, orang yang terhormat adalah orang yang berilmu. Maka ia dipercaya untuk memutuskan perkara penduduk di negerinya. Orang berbondong-bondong datang ke rumahnya demi mendapatkan jawaban atas segala masalah yang menimpanya. Jika ia telah memberi petuah, orang-orang akan melaksanakan. Orang berilmu atau yang biasa mereka sebut dengan ulama adalah orang nomor satu. Kedudukannya di hati masyarakat melebihi raja-raja dan para bangsawan.

Pernah ada seorang raja ingin belajar ilmu kepada kepada seorang yang berilmu. Lalu sang raja menyuruh hulubalang untuk menyampaikan maksudnya kepada sang ulama. Hulubalang segera menjalankan perintah. Sesampainya ia ditempat ulama, ia menyatakan maksud kedatangannya.

“Ya syaikh, raja kita ingin belajar ilmu agama kepadamu, datanglah ke istana besok”, kata hulubalang berapi-api. Sang ulama tersenyum.

“Kembalilah ke istana dan katakan kepada raja bahwa jika ia benar-benar ingin belajar maka ia yang harus datang ke gubuk kami ini.”

Hulubalang heran. “Mengapa begitu ya syaikh?”

Ilmu itu tidak datang sendiri. Ia harus dicari. Maka ia harus didatangi. Begitulah rumusnya. Kau lihat, semua orang yang datang kesini itu, mereka juga berasal dari tempat yang jauh.

Setelah maksudnya tuntas dilaksanakan sang hulubalang pulang dan segera memberi kabar kepada rajanya.Sang raja berang. Namun pada akhirnya ia mengalah karena ia berpikir bahwa apa yang dikatakan ulama tersebut benar.

Keesokan harinya ia datang ke tempat ulama. Sang ulama menyambutnya dan mempersilahkannya duduk. Sang raja bingung karena tidak ada kursi. Sang ulama menunjukkan lantai. Sang raja mau tidak mau harus duduk tanpa kursi.

“Pelajaran pertama ya tholib”.Sang raja celingukan mencari orang yang bernama tholib. Akhirnya ia menyadari bahwa ia hanya sendiri dan itu berarti dirinyalah yang dimaksudkan sebagai tholib. Baru kali ini ia tidak dipanggil sebagai Yang Mulia.

“apa yang akan kau lakukan jika disuatu ketika kau sangat kehausan sementara tidak ada air setetes pun.Tiba-tiba ada yang datang membawa segelas air?” kata sang ulama memberi pelajaran.

“ aku akan menukarkan air tersebut dengan separuh kerajaanku.” Kata sang raja penuh percaya diri.

“limadza ya tholib, mengapa ya tholib?”

“Karena pada saat itu minum adalah hal terpenting dari apapun.”

Sang ulama tersenyum. Ia lalu melanjutkan, “ jikalau ternyata air yang telah kau minum tidak bisa kau keluarkan dari tubuhmu, apa yang akan kau lakukan, ya tholib?”

“ aku akan memberi separuh dari kerajaanku bagi siapa saja yang bisa mengeluarkannya”, kata sang raja mulai berpikir mencari benang merah pertanyaan pertama dengan yang kedua.

“Limadza ya tholib?” Sang ulama lagi-lagi bertanya mengapa.

“Karena mengeluarkan air yang sudah tidak berguna itu lebih penting dari apapun termasuk separuh kerajaan.

“ Ya tholib, apa kesimpulan pelajaran hari ini?"

Sang raja menjawab,” Bahwa segelas air lebih penting dari kerajaanku”. Sang raja tertunduk.

Sang ulama tersenyum dan berkata:“ Bahkan sesungguhnya dunia ini tidak lebih berat dari sepasang sayap nyamuk.Ya tholib, sesungguhnya dalam pengajaran harus ada ketundukkan hati. Dalam belajar, kau adalah murid dan pengajarmu adalah guru. Dalam belajar, orang tidak memandang siapa kau, tapi seberapa dalam yang kau pelajari. Yang terberat ya tholib, bukan kerajaanmu tapi pengamalan dari setiap apa yang telah kaupelajari.” Sang ulama menutup pelajaran dengan senyumnya yang arif.

Sang raja semakin tertunduk. Ia ingat, selama ini ia hanya bersenang-senang di istana tidak peduli keadaan rakyatnya. Ia menganggap bahwa kerajaannya adalah segalanya. Dan ia adalah pusat kehidupan dari seluruh yang tercakup di dalam kerajaannya. Ternyata, ia baru sadar, kerajaannya bahkan tidak lebih besar daripada segelas air.

Begitulah pula kita. Terkadang merasa apa yang kita miliki ini adalah segalanya. Jabatan dan kedudukan kita. Kekayaan kita. Istri atau suami kita. Anak-anak yang sangat cerdas luar biasa. Semuanya mampu membuat kita lupa tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Apa yang terpenting dari semuanya. Terkadang kita merasa berlagak bagai raja. Dan akan marah sejadinya jika orang lain tidak tunduk patuh menghiba-hiba. Padahal sejatinya,bagaimana kedudukan kita di hati orang lain itulah yang lebih penting. Dan yang terpenting lagi adalah bagaimana kedudukan kita di hadapan pencipta kita.

Maka, kedudukan orang-orang berilmu dan ilmunya bermanfaat adalah lebih penting dari pada kedudukan orang kaya yang hanya sekedar memikirkan dirinya sendiri. Namun kedudukan orang kaya yang dermawan adalah lebih penting dari kedudukan orang yang berilmu setinggi gunung tapi miskin pengamalan dan pengajaran. Wallahu a’lam.

Palembang, 20 September 2013 pk. 14.20 WIB

Senin, 01 September 2014

KEINGINAN

Oleh: Rika Januarita Haryati

Jika sudah mendapatkan apa yang diinginkan, apakah keinginanmu selesai? Tidak eh belum. Jika semua permintaanmu telah dikabulkan oleh sang pencipta, apakah doa-doamu menjadi selesai? Belum. Sebenarnya, apa yang kau inginkan?

Keinginan kita sungguh banyak sekali. Apa yang terlihat oleh mata, apa yang terdengar, apa yang terbayang, begitu menggoda untuk kita capai. Jika belum tercapai, maka meranalah jiwa karenanya. Maka raga berontak untuk dapat mewujudkannya. Jikalau hari ini kita makan hanya bisa satu kali sehari, maka kita berusaha untuk bisa makan dua kali hingga tiga kali. Setelah semua tercukupi, barulah kita terpikir untuk menambah dengan snack atau kudapan. Jika telah terlaksana barulah berencana makan di luar. Di restoran, di hotel, di cafe dan lain sebagainya.

Well, memang ada yang menginginkan semuanya meskipun kemampuan belum memadai. Wajarlah jikalau akhirnya pribahasa besar pasak daripada tiang menjadi begitu populer. Apakah kita bisa mencukupi segala keinginan kita? Ya bisa. Tapi hati-hati, jika terlalu memaksakan maka akan stres sendiri akhirnya. Jika besarlah keinginan dibanding kemampuan merealisasikannya maka kita bisa tenggelam dalam runtuhan keinginan kita itu sendiri.

Tentu saja, keinginan kita bukan hanya makan. Yang utama memang makan. Ada prestasinya. Juga prestise. Kehormatan, jabatan, gelar dan nama besar. Yang tidak bisa lepas, tentu saja uang. Banyak orang yang mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membeli semua keinginannya. Termasuk membeli nama dan gelar. Membeli ketundukkan dan kepatuhan. Bahkan uang bisa membeli suara bahkan si pemilik suaranya sekalian.

Keinginan adalah hawa nafsu. Ada yang baik dan ada yang buruk. Keinginan yang baik berasal dari lingkungan yang baik. Pikiran yang baik. Serta fitrah jiwa yang menyukai kebaikan. Kebaikan itu menenangkan hati. Maka, banyak sekali orang-orang yang melakukan kebaikan. Banyak juga orang yang akhirnya curiga dengan kebaikan. Takut ada udang dibalik batu.

Keinginan yang buruk, berasal dari lingkungan yang buruk. Pikiran buruk. Serta angan-angan sesat yang membuat keburukan terlihat indah. Banyak orang berlomba-lomba mencuri uang rakyat. Memenggal kesempatan orang kerja di sana-sini. Memutus mata rantai kesuksesan orang lain yang berlaku pada rel yang benar. Pokoknya segala keburukan itu terlihat indah dan mudah.

Keinginan kita tak bisa berhenti. Ibarat meminum air laut, akan bertambah haus jadinya. Keinginan takkan pernah sudah. Kalau bisa, tangan ini bisa memeluk gunung atau bisa menggapai bulan. Keinginan tak akan pernah musnah. Selalu ada dan terus ada. Apa yang akan jadi pemutusnya? Mati atau putus asa. Orang yang putus asa, tidak menginginkan apa-apa lagi kecuali mati. Sedang orang mati, tidak bisa lagi berpikir untuk ingin.

Lalu harus bagaimana menghadapi keinginan ini? Kita tidak bisa memutusnya namun kita bisa mengendalikannya. Kita adalah raja. Sedang keinginan kita hanyalah pelayan. Ia yang melayani kita, bukan sebaliknya. tapi oh tapi, banyak sekali kita temui pada zaman sekarang ini, raja-raja yang melayani keinginan pelayannya.

Dalam keinginan harus ada kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah pertimbangan perlu atau tidaknya sebuah keinginan untuk direalisasikan. Boleh saja ingin menjadi paling kaya sedunia. Boleh saja ingin menjadi selebritas paling terkenal sejagad raya. Boleh saja ingin jadi ilmuwan paling hebat sedunia. Tapi perhatikan bagaimana cara memperolehnya. jika semuanya didapatkan dengan cara terhormat, maka keinginan itu adalah keinginan terhormat. Merealisasikannya juga merupakan bentuk kehormatan.

So, jika memang keinginan itu mulia dan terhormat, realisasikanlah dengan jalan yang mulia dan terhormat. Keinginan semulia apapun jika direalisasikan dengan jalan yang buruk, maka hilanglah kemuliaannya.

at Tunas Bangsa Palembang, 25 September 2013 pk. 12.50

Minggu, 31 Agustus 2014

CINTAKU PADA JASMIN

Oleh: RikaJanuarita Haryati

Alangkah lengkapnya, jikalau di tamanmu ada bunga mawar dan melati. Keduanya sama mahsyurnya. Keduanya cantik jelita. Nama mereka pun sungguh indah saat diucapkan maupun saat didengar. Rosa sinensis dan Jasminum sambac. Keduanya semerbak mewangikan taman sejauh pandangan. Oh kumbang mana yang tak tersihir oleh kecantikan keduanya. Hai kupu-kupu mana yang tak terpikat oleh kejelitaan mereka. Tanah mana yang tak bahagia melahirkan keduanya. Bunga-bunga lain pun mendapat berkah karena bisa bersanding dengan keduanya sehingga tersiram keharuman yang terbaik.

Tahukah kau,dibalik semua kesamaan anugrah yang melingkupi keduanya, ada perbedaan yang mencolok. Apakah itu berkaitan dengan warna bunganya? Apakah bentuk batang dan daunnya? Apakah perawakannya? Apakah sifat-sifat filosofisnya? Baiklah, semua kemungkinan itu benar. Tapi yang paling mencolok adalah bagaimana orang memperlakukan keduanya.

Terhadap mawar,pecinta mana yang tak mengenalnya? Warna merahnya adalah perwakilan dari hatiyang buncah. Hati yang berbunga. Bunganya adalah perasaan yang mendalam. Emosi yang teraduk-aduk dan dipenuhi oleh cinta. Memberikan mawar adalah perlambang penawaran cinta. Menerima mawar adalah perlambang menyambut cinta. Tapi oh sayangnya, banyak orang yang salah kaprah. Mereka pikir mawar ini bisa dibeli dan diberikan kepada siapa saja yang disukainya. Bahkan manusia paling bajingan sekalipun bisa dengan ringan menenteng mawar kemana-mana lalu memberikannya kepada siapa saja, perempuan mana saja. Oh, begitulah sejatinya nasib mawar. Atas nama cinta, orang-orang menodai kehormatannya. Karena oh karena, ketika perempuan telah menyambut mawar yang diberikan oleh seorang lelaki, maka meski belum terikat pernikahan, para pecinta palsu merasa telah saling memiliki. Bahkan merasa boleh saling melakukan apa saja. Bergandengan, berpelukan, dan ber-ber lainnya. Pada akhirnya, mawar ini hanya bisa tertunduk menangis menyesali akhir dari sejarahnya hidupnya.

Mungkin kau pun pernah menyaksikan saat remaja galau. Mereka memetik mawar hanya untuk menceraikan beraikan mahkotanya sambil berspekulasi mencari jawaban “iya” atau“ tidak”. Yah, lama disayang-sayang si mawar, pada akhirnya hanya menjadi sampah para spekulan galau. J

Mawar biasanya dipisahkan mahkotanya, lalu di taburkan di jalan-jalan para pejabat yang sedang berjalan. Ya, pada akhirnya kecantikannya hanya untuk diinjak-injak. The last, mawar berakhir di pemakaman.Menjadi penghias tanah yang masih memerah.

Bagaimana dengan melati? Melati bermahkota lebih kecil. Terlihat bersahaja. Warnanya tidak cerah mencolok ataupun merona. Putih saja. Sederhana saja. Tapi wanginya bisa menghipnotis siapa saja. Kecuali orang-orang yang hidungnya bermasalah atau alergi bau wangi yang natural.

Apa yang dilakukan orang-orang terhadap si melati? Pernah kau lihat orang-orang memetik kuncup-kuncup melati lalu mereka letakkan pada keranjang? Pernah jugakah kau melihat orang-orang merangkai bunga melati? Selanjutnya, bunga melati itu akan diletakkan sebagai mahkota penghias di atas kepala para gadis pengantin.Terkadang para tamu undangan pun tak segan memetik sang melati dari kepala si gadis.

Kecantikan melati hanya membersamai kecantikan gadis yang menggenapkan setengah dien (agama).Gadis yang merayakan cintanya dengan cara terhormat. Sungguh, belum pernah terdengar para pecinta palsu memberikan setangkai melati untuk pasangannya J.

Aku suka melati karena ia bisa hidup dimana saja. Ia mudah tumbuh dimana saja. Ia fight terterhadap serangan hama. Menanamnya pun sangat mudah, cukup kau stek saja. Cukup kau tancapkan batangnya ke tanah, maka ia akan tumbuh semarak. Ia tak perlu jambangan mewah atau pot yang cantik. Ia tak perlu dipupuk, karena ia adalah bunga yang mandiri. Ia akan mencari sendiri apa yang ia butuhkan. Ia sederhana,namun kuat. Ia rakyat jelata namun terhormat. Ia kecil namun harum. Ia biasa saja namun khas dan berkarakter.

Aku suka melati.Suka pada kebersahajaannya. Keharumannya yang berwibawa. Orang-orang memperlakukannya dengan hormat. Bentuknya mahkotanya biasa saja bahkan kecil.Bahkan dibandingkan mawar atau anggrek, dia bukanlah apa-apa. Begitu pun warnanya, putih saja. Tidak seperti mawar yang punya spektrum warna bervariasi.Namun karena itulah orang memilihnya untuk melengkapi kecantikan para pengantin.

Sungguh, siapa pun boleh saja menjadi cantik. Gadis manapun boleh saja harum menawan. Namun yang terpenting dari segalanya adalah kecantikan yang berwibawa. Kecantikan yang membuat orang merasa hormat. Tentu saja bukan karena kau cantik, kaya, juga anak pejabat yang membuat orang menghormatimu tapi karena kecantikan akhlakmu yang memancar dengan indahnya.

Palembang, 2 November 2013 pk 17.24 WIB

Jumat, 29 Agustus 2014

TAK TERTULIS

Oleh: Rika Januarita Haryati

Begitu banyak kata yang tidak sempat terkatakan.Begitu menjulang ucapan yang tidak sempat diucapkan. Kata-kata melupakan dirinya sendiri. Padahal rangkaian kalimat telah berjajar dengan indah. Tinggal menunggu peluit ditiup, maka semua kata akan berlomba berjejalan muntah dari mulut. Namun apalah daya, kata-kata telah menyembunyikan dirinya di ruang gelap dan pengap. Mereka sungguh sudah terlalu malu. Dunia ini sudah hampir hancur karena keganasan kata-kata. Maka biarlah mereka berkontemplasi di gua-gua gelap.Biarkan mereka menyesali diri. Kata-kata pun butuh kesendirian untuk menenangkan jiwanya.

Pernahkah kau membayangkan jikalau kata-kata bisa ditumpuk bagai batu? Maka mereka akan menjulang. Tingginya pasti melebihi Mahameru bahkan bisa melebihi Everest. Oh atau justru menyundul langit. Bahkan kita bisa kehilangan ruang untuk bernapas karena semua telah penuh terisi oleh kata-kata.

Pernahkah juga kau berandai-andai jikalau kata-kata adalah butiran hujan? Maka masing-masing kita telah tenggelam oleh ambisi kata-kata kita sendiri. Betapa luas dan dalamnya lautan yang terbentuk karena kata-kata. Bahkan lautan ini bisa menelan Laut Merah, Laut Mati dan betapa mengerikannya karena mereka juga akan menelan semua samudera di dunia. Semua pohon akan tumbang. Tercerabut terbawa gelombang.Hewan-hewan menggelepar kedinginan. Tak ada burung yang berani mengepakkan sayapnya. Bahkan ikan-ikan akan tersesat oleh badai lautan. Bagaimana dengan kita? Kita adalah yang pertama-tama tertelan oleh lautan kata. Mungkin, takkan ada yang tersisa.

Pernahkah kau bayangkan?

Jikalau kata adalah gunung, lihatlah gunung yang terbuat dari kata maaf. Hanya untuk kata maaf saja. Ya, betapa seringnya kita meminta maaf, betapa seringnya kita melakukan kesalahan. Adakah gunung pemberian maaf kita telah sama tinggi dan menjulangnya? Memaafkan adalah karakter orang yang sabar lagi mulia. Namun bagaimana kita bisa menipu diri sendiri. Tentu saja, kita bisa memaafkan siapa saja, tapi kita takkan pernah melupakannya. Bukankah selalu begitu? Seperti maaf yang diberikan oleh sebatang pohon yang telah ditancapkan paku pada batangnya. Maka ia takkan melupakan sakit saat paku itu kita tancapkan, juga sakit saat paku itu kita cabut. Pernyataan maaf kita adalah permintaan kita untuk mencabut pakunya. Maka memaafkan adalah saat dimana paku-paku dicabut.

Lalu, mana yang lebih baik, membiarkan paku itu tetap menancap atau mencabutnya? Jikalau memang sakit, apakah lebih baik tidak usah meminta maaf dan tidak perlu memaafkan? Oh,itu sama saja artinya dengan menancapkan paku seumur hidup. Saat paku karatan,maka ia akan menjadi penyakit yang akhirnya menggerogoti kehidupan sampai akhirnya mematikan. Kejam memang.

Well, tentu saja kita semua mafhum bahwa tidak semua orang bisa berbesar hati untuk memaafkan. Kita pun tahu,bahwa tak semua orang memiliki keberanian untuk meminta maaf. Apalagi jikalau harus meminta maaf pada orang yang lebih muda, atau orang yang jabatannya berada di bawah. Apalagi jika selama ini ia hanya kita pandang sebelah mata. Antara maaf dan gengsi. Banyak orang-orang yang tak bersedia meminta maaf meskipun ia menyadari kesalahannya. Ya banyak sekali.

Tapi, ternyata banyak juga orang yang memaafkan saja meski orang yang bersalah tidak pernah meminta maaf. Saat kutanya apa alasannya, mereka menjawab bahwa mereka tidak suka memelihara kebencian. Karena kebencian itu akan memburukkan nilai kehidupan mereka. Setiap kata bisa menjadi laknat. Setiap doa bisa menjadi sumpah serapah. Oh, setiap kebahagiaan bisa menjadi tak bernilai karena ia tidak lagi bisa ditampung oleh hati yang memendam kebencian. Maka solusinya adalah just forgive all mistakes. Lalu, sambutlah ketentraman dan kebahagiaan yang datang bertubi-tubi.

Tidak semua hal harus dituliskan, tak semua kata pun harus diucapkan. Namun, tulisan memiliki kekuatannya sendiri. Begitu juga kata-kata. Dimana kekuatan mereka? Saat kita berhadapan dengan para hipokrit dan para pengkhianat. Maka semakin banyak hipokrit dan para pengkhianat yang berada dalam suatu negara maka semakin banyak undang-undang yang harus dibuat. Satu kitab takkan pernah cukup. Mungkin seribu kitab pun masih terasa kurang. Bahkan yang lucunya, kitab undang-undang itu dibuat oleh para hipokrit dan pengkhianat. So desperatest.

Banyak hal-hal besar yang tak tertulis. Banyak sejarah lewat begitu saja. Banyak para tokoh besar tidak kita kenal karena tak tertuliskan. Banyak hal yang seharusnya ditulis namun tak tertulis. Tapi lebih banyak lagi hal-hal yang tak perlu ditulis, tapi kita lihat berserakan dimana-mana. Aneh ya?

Sekarang, kita telah menebang berjuta hutan. Memangkas semua ranting pohon untuk dijadikan pena.Kita pun telah mengeringkan banyak lautan untuk menjadikannya sebagai tinta.Apa yang ingin kita tulis? Sejarah besar? Biografi orang besar abad ini?Janji-janji? Atau hal remeh bin temeh?

Hei apa menu makan siang kalian hari ini? :)

Palembang, 4 November2013 pk. 06.28

Rabu, 27 Agustus 2014

CINTA ADALAH PERSAHABATAN

Oleh: Rika Januarita Haryati

Cinta adalah persahabatan. Orang yang saling mencintai adalah orang yang sama-sama berjanji untuk saling bersahabat selamanya. Marah, benci, kesal dibungkus oleh persahabatan. Maka hal-hal buruk tersebut tak akan kekal. Bagaimanapun, seorang sahabat akan memaafkan kesalahan sahabatnya. Sedang cinta, sayang dan kasihnya pun dibungkus oleh persahabatan sehingga takkan membabi buta.

Dalam bersahabat, selalu ada nasehat. Menasehati atau dinasehati adalah hal yang lumrah dalam jalinan persahabatan. Jika ada kayu yang bengkok, maka akan segera diluruskan dengan cara yang baik. Maka jika seorang sahabat terlena oleh kesalahan, maka sahabatnya akan menasehatinya dan berusaha menjauhkannya dari kesalahan-kesalahan selanjutnya. Bahkan jikalau sahabatnya jatuh kedalam got sekalipun, maka sahabatnya takkan meninggalkannya. Sahabat akan tetap mengulurkan tangannya. Tak peduli betapa kotornya dan baunya got tersebut. Sahabat akan berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan sahabatnya dari got tersebut.

Entah, bagaimana mengukirkan sebuah cerita tentang persahabatan ini. Mungkin memang muluk. Tapi sungguh, cerita orang-orang yang saling bersahabat itu banyak sekali. Kau tahu kawan, cerita persahabatan orang-orang terdahulu? Pernahkah kau mendengar cerita tentang seorang sahabat yang meletakkan kakinya pada mulut lubang ular? Hal itu ia lakukan agar ular tidak keluar dan menggigit sahabat yang ia cintai.

Pernah jugakah kau mendengar kisah seorang sahabat yang merelakan gadis idamannya akhirnya dipinang oleh sahabat yang menemaninya kerumah sang gadis untuk melamarnya? Apalah daya ternyata sang gadis justru menyukai sahabatnya. Bahkan kau tahu kan jika si sahabat ini akhirnya menghadiahkan maharnya untuk sahabatnya? Dia adalah Salman al Faritsi, sedang sahabatnya adalah Abu Darda. Oh kawan, cerita ini sudah lewat berabad yang lalu. Namun, tiada orang yang akan lupa bahwa cerita ini ada.

Cinta adalah persahabatan. Kau tahu kawan, dalam persahabatan tentulah ada lapang dada. Itulah yang menyebabkan persahabatan kita bertahan sampai sekarang. Oh ya, dalam persahabatan juga ada hormat. Mana tega kita untuk menjelek-jelekkannya meski dari belakang. Bahkan yang ada justru rasa pedih jika mendengar ia dijadikan guyonan oleh orang lain.

Terkadang ajaibnya, ada rasa bahagia ketika ada orang lain menceritakan tentang kebaikannya. Juga ketika ada orang yang menitipkan salam untuknya. Atau ada orang yang juga mendoakan untuk kebaikannya. Saat ia bahagia, kaupun bahagia. Saat ia sedih, tiba-tiba saja langitmu terasa mendung. Apakah kau pernah merasakan hal tersebut?

Dalam bersahabat tidak ada test. Jangan coba-coba menge-test-nya. Test kebaikannya. Test kejujurannya. Atau test-test lainnya. Lalu bagaimana melihat ia apa adanya? Ingatlah perkataan Umar bin Khattab bahwa kita akan tahu dengan sendirinya kualitas sahabat kita dengan saat seperjalanan dengannya, saat berbisnis dengannya dan saat bermalam dengannya. Ia tetap baik atau berubah menjadi srigala.

Saat kau memberlakukan test, maka ketulusanmu telah hilang. Kau takut sebelum ketakutan itu mendatangimu. Kau pengecut. Kau telah mengisolasi sahabatmu. Kau menyemprotkan pestisida ke wajahnya.

Ya, di bumi ini, ada orang-orang yang jikalau kita berada di depannya maka mulutnya dan wajahnya manis sekali. Suaranya memuji kita. Tingkah lakunya akrab dan membuat terkesan. Namun setelah kita hilang dari pandangannya, maka semua aib kita ia obral kepada siapa saja. Seolah-olah kita adalah musuh bebuyutannya. Maka mendoakannya adalah hal terbaik agar penyakitnya tidak menular.

Aku pernah difitnah. Tapi tidak apa-apa. Itu juga sudah lama sekali. Pernah juga ada yang salah mempersepsikan tentang aku. Hal ini yang paling menyakitkanku karena dilakukan oleh orang yang dekat denganku. Tapi tidak apa-apa. Mungkin itu cara Allah memberitahuku sahabat seperti apa dirinya. Sungguh, aku tidak rugi.

Aku berterima kasih karena masih mempunyai banyak sahabat yang tulus. Mereka yang mencintaiku karena Allah. Mereka yang tetap menjaga kehormatanku meski aku jauh dari mereka. Mereka yang tidak mencibirku dari belakang.

Ya,ya,ya bagaimana mungkin mereka melakukannya di belakangku. Kalau ditanya mengapa, bisa-bisa mereka terkekeh sambil berkata: “bagaimana mungkin kami mencibirmu dari belakang, kan lebih asyik langsung dari depan. Haha”

Maka, cinta memang adalah persahabatan.

Palembang, 1 Desember 2013 pk.12.00

Selasa, 19 Agustus 2014

AKU HANYA MUSAFIR (PART III)

Oleh:Rika Januarita Haryati



Aku hanyalah musafir. Aku sadar, bahwa apa pun yang terjadi aku tidak bisa terus tinggal menikmati tempat persinggahan. Aku tidak mungkin duduk bersantai lama-lama. Juga tidak mungkin untuk terus-terusan tidur mendekam tanpa peduli bahwa hari-hari telah berlalu.



Memang, ada kalanya badan ini terasa sangat berat untuk bergerak melanjutkan ‘perjalanan suci’. Terpekur kadang hanya terpaku di balik kehangatan dan kenyamanan tempat peristirahatan. Oh, bagaimanalah bisa sampai tujuan jika hawa nafsu ini diperturutan? Dengan langkah gontai mulai berdiri menyambut sinar matahari pagi. Dengan wajah sendu mengucap selamat tinggal kepada tempat persinggahan. Oh hari, jangan tinggalkan aku. Aku mau menyusulmu. Selalu begitu niatku. Meski pada akhirnya kakiku hanya berjalan di dalam mimpi.



Ada kalanya aku akan mengevaluasi segala yang terjadi dalam setiap hari-hariku. Tapi ada saatnya aku lupa melakukannya. Ada kalanya ketika malam tiba, kuresapi kelap kelip bintang yang bertaburan. Mereka itu petunjuk jalan. Mereka juga cantik. Tapi mereka bersembunyi pada siang hari. Ada kalanya ketika siang, kuintip matahari yang cerah namun menggarang. Gagah namun membakar. Rumput-rumput kecil meringkuk layu tak berani meski hanya sekedar menatapnya. Maka, bukankah wajar jikalau raga ini menolak untuk meneruskan perjalanan? Alangkah asyiknya jikalau tetap berada di kerindangan. Ditemani jus dingin dan buah-buahan yang mengandung air yang banyak dan manis.



Oh, apalah daya, ternyata aku hanya musafir. Ada batas waktu dalam perjalanan. Tergambar betapa merugi dan celakanya jikalau aku tak memperbaiki aktivitas dalam perjalananku. Entah berapa keping emas yang nantinya harus kubayarkan ketika kaki ini masih menjejak rumput yang sama. Maka, ayolah wahai diri, terus berjalan. Bergeraklah meski hanya sembunyi-sembunyi.



Aku hanya musafir. Perjalanan ini sangat menyenangkan. Tidak, tak ada yang sudi menaburi jalanan dengan serpihan mawar. Seperti tak ada pula yang sudi mengelu-elukan. Namun, tahukah kau, bahwa orang-orang terdahulu yang berjalan di jalanan ini telah rela menanggung beratnya perjalanan? Mereka memanggul parang besar untuk menciptakan jalan setapak. Mereka menanam pohon-pohon di sisi kanan dan kirinya. Agar ada tempat peristirahatan untuk para musafir di kemudian hari. Agar ada air yang tersimpan di akar-akarnya. Bahkan terkadang diantara mereka masih ada yang sempat menanam bebungaan agar ada lebah yang hinggap. Agar ada madu yang bisa kami nikmati nantinya.



Mereka pastilah para musafir yang baik. Mereka bertebaran di muka bumi namun mereka tidak merusaknya. Mereka memelihara bumi. Mereka percaya bahwa ada hubungan timbal balik antara bumi dengan manusianya. Bahkan mereka rela tetap melarat karena tidak mau mengeruk tambang emas di perut bumi.



Aku hanya musafir. Banyak buku yang harus kubaca. Banyak kisah yang harus kudengar. Banyak kota yang harus kulihat. Banyak pintu yang harus kulewati. Banyak jenis tanah yang harus kupijak. Banyak penelitian yang harus kulakukan. Banyak bahasa yang harus kupelajari. Banyak tanaman yang harus kusentuh. Banyak hal lagi yang sampai saat ini belum kulakukan.



Jujur, sebenarnya aku malu menyebut diri ini sebagai musafir. Aku belum berjalan kemana-mana. Sudah terlalu lama aku singgah. Tapi, sekali lagi pada dasarnya kita semua hanya musafir.



Palembang, 6 Februari 2014 pk 10.17 WIB

Senin, 18 Agustus 2014

AKU HANYA MUSAFIR (PART II)

Oleh: Rika Januarita Haryati



Aku hanya musafir. Berjalan memungut serakan petuah dan nasehat dari orang sekitar bahkan dari alam yang berbisik perlahan. Betapa hebatnya pengajaran mereka. Tentang kehormatan. Lain waktu tentang sepotong kebahagiaan. Juga ada tentang kisah kesederhanaan.



Aku tersentuh akan kesederhanaan.Kesederhanaan yang selalu dapat diterima di mana pun. Kecuali di tempat penuh dengan kepalsuan. Semua orang menyukai kesederhanaan. Tapi mereka malu jika memilih kesederhanaan sebagai jalan hidup. Aneh memang. Mungkin termasuk diriku. Ya, aneh memang. Ketika sudah berkumpul dengan orang-orang besar, maka jika kita tidak mempunyai prestasi kebesaran yang dibanggakan maka yang bisa dibesarkan adalah style dan bualan kita. Keglamoran adalah tanda kebesaran. Entahlah. Agus Salim adalah orang besar. Tidak orang yang meragukannya. Namun ketika ia berada dalam pesta kalangan Barat di Paris, tetap saja ia makan dengan caranya. Saat semua orang makan dengan berbagai macam sendok, garpu, pisau daging, tisu, dan aksesoris lainnya,beliau santai saja makan dengan menggunakan tangan kanannya. Orang-orang melotot melihat keanehannya. Tapi tetap tak ada yang berani merendahkannya. Mereka tetap hormat. Tak bisa kubayangkan kalau aku berada di posisi tersebut. Mungkin aku pun akan berpura-pura sok elit. Orang standing party, mungkin aku juga akan standing party. Tapi aku yakin, pada akhirnya aku sendiri yang tidak akan tenang.



Aku hanya musafir. Tempat pemberhentianku hanyalah sebatang pohon yang kunikmati kerindangannya. Sesekali sambil mendengarkan nyanyian burung-burung yang tinggal di atas sana. Beristirahat dengan membuka sedikit perbekalan dan mereguk seteguk kesegaran. Sungguh meski menyenangkan berada dalam keteduhan, sejatinya kita akan segera meninggalkannya. Secantik apapun pohon tersebut, ia bukanlah tujuan kita. Kita akan melanjutkan perjalanan.



Aku hanya musafir. Perjalananku masih sangat panjang, mungkin. Meski kakiku jemu, kakiku pasti kan terus berjalan. Meski batinku kuyu, aku harus tetap menyeret langkahku ke masa depan.



Aku hanya musafir. Ada kalanya aku harus mengisi perbekalan dimana saja. Ketika habis atau persediaan mulai menipis, aku harus segera memenuhi keranjang perbekalan. Sungguh, terkadang alam ini sangat baik. Ia menyediakan segala macam bekal. Tinggal aku mau pilih yang mana. Perbekalan yang lezat maka perjuangan mendapatkan sangat tidak mudah. Mungkin harus tersuruk-suruk. Bahkan kadang tersungkur. Adalah hal yang lumrah sekalipun harus melompat tinggi untuk dapat menggapainya.



Aku hanya musafir. Aku mulai menemui kelelahan. Mulai terasa dengan jelas betapa dinginnya perjalanan. Namun senyum orang-orang di sekitarku benar-benar menghangatkan. Senyum yang selalu berkata untuk jangan takut menjadi musafir. Aku tak tahu, sampai dimana aku akan sanggup berjalan. Semoga sampai tujuan dengan terhormat.



Mungkin, kau pun juga musafir. Maka,mari saling mendoakan.



Palembang, 27 Januari 2014 pk8.17

Minggu, 17 Agustus 2014

AKU HANYA MUSAFIR (PART 1)

Aku hanya musafir dalam perjalanan yang panjang. Setiap langkah yang terjejak, meninggalkan tahun yang berlalu. Menggores satu tanda bahwa waktu semakin berkurang. Namun senyum tak boleh ikut berkurang. Pun kebahagiaan,tak boleh ikut terbang melayang bersama usia yang semakin menipis.


Aku hanya musafir. Aku sadar, musafir itu akan melalui banyak rintangan dalam setiap perjalanannya. Ada ujian. Harus pandai dalam mengambil keputusan: Kemana kaki melangkah, apa yang dipikirkan, makanan yang diperoleh dan teman seperjalanan.


Bisa jadi, teman kita banyak sekali. Sampai-sampai kita lupa namanya, hanya terkenang wajahnya. Ada teman yang melangkah bersama sejauh 1 mil saja. Ada yang bermil-mil. Ada juga yang bahkan kurang dari beberapa meter saja. Dan mungkin ada yang akan menemani seumur hidup. Banyak. Apalagi karakternya, mungkin sangat lengkap. Bahkan buku-buku psikologi atau humaniora pun belum sempat mencatatnya.


Aku hanya musafir. Inginku, tentu saja sama dengan kebanyakan orang. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah, kota-kota indah dan desa-desa yang natural. Menapaki pegunungan, melintasi samudera, atau membelah hutan. Atau berpetualang ke negeri-negeri pusat peradaban.


Aku hanya musafir. Belajar dan mengajar adalah hal yang lumrah, bukan? Mencoba belajar dari banyak pengalaman orang-orang di sekitar. Luar biasanya, mereka tulus memberi pencerahan. Memang, ada saja yang mencari kesempatan dan keuntungan. Tapi biarlah. Bukankah niat masing-masing dari kita akan dicatat? Lalu kita akan diganjar sesuai dengan yang diniatkan.


Aku tetap takjub dengan orang-orang sederhana tapi ia selalu royal dalam memberikan ilmu tentang bagaimana melangkah dengan benar. Jika kita salah, ia tak langsung marah, karena ia sangat mengerti tentang proses. Prasangka baik dan doanya selalu membersamai kita. Jika kau temukan orang yang demikian,jangan pernah kau lepaskan. Jangan pernah kau tinggalkan. Ikat dengan erat. Bagaimana jika ia yang ingin meninggalkan kita? Rasanya jangan ragu-ragu untuk berkata: please, don’t leave me alone.


To be continued


Palembang, 23 Januari 2013 pk.06.24

Sabtu, 16 Agustus 2014

SI PETAI DAN SI JENGKOL

Pernah sesekali aku berpikir tentang sesuatu yang acak saja. Pikiran mengalir. Hati bertanya tanya. Ah, hal sepele memang. Semisal, mengapa aku tidak tertarik untuk makan pizza atau spagetti. Mengapa sih aku tidak mau minuman bersoda.


Jawabannya mudah saja. Tidak selera. Di desaku, mana ada makanan seperti itu. Mungkin lidah orang desa yang konservatif. Jadi harus yang sudah biasa dimakan dari kecil. Tapi eh tapi,meski itu si petai dan sejolinya si jengkol adalah makanan terkhas dari desa, aku juga tidak suka. Kecuali untuk kasus darurat.


Termasuk kasus darurat adalah ketika kita menjadi tamu dan menginap, lalu hanya ada sambal tempe bertabur petai atau rendang jengkol. Atau kasus kedua adalah aku mendapat kiriman rantang dari tetangga. Isinya bihun goreng dengan suwiran daging, tempe dan petai.


Pernah suatu kali,tanteku masak rendang. Tapi bentuknya sudah berbeda. Tak ada lagi si jengkol yang kukenal. Ternyata, onde mande, jengkol itu kalau direndang, rasanya jadi enak sekali. Lidahku saja berhasil ia tipu. Penyamarannya benarbenar sempurna.


Aku pikir-pikir, toh petai dan jengkol itu alami dan natural. Jika dibandingkan dengan makanan-makanan cepat saji yang marak menguasai gaya hidup kita, petai dan jengkol jauh lebih bergizi ketimbang sfc, cfc, gtc, mumkin donut, spaketti, pizzang hurt, dll.


Asli, produk makanan instant dan cepat saji plus junkfood banyak sekali di sekitar kita. Meski mahal tapi laris manis.

Kabar baiknya, ekonomi kita sedang berkembang pesat. Rekrutmen kerja untuk operasional yang berarti membuka lapangan kerja.


Kabar buruknya, terlalu sering mengonsumsi fastfood secara kontinu akan menyebabkan maraknya penyakit yang berkaitan dengan organ sistem pencernaan.


Keburukan selanjutnya, makanan dengan zat sintetis di atas dapat mencetuskan kanker. awalnya sih kantong kering dahulu, 5 atau 10 tahun kemudian baru sel kankernya berkembang.


But, well, meski sudah banyak peringatan, contoh akibatnya, toh tetap saja kita serbu tempat kediaman si fastfood tadi. Maklum, jaga gengsi and status sosial dunk.


Aku membayangkan nanti ada restoran menu petai dan jengkol. Racikan bumbunya membuat aroma khasnya menghilang. Lalu orang-orang mengantri untuk makan di sana. Sepertinya, akan lebih banyak faedahnya ketimbang mudharatnya. Karena sebenarnya kandungan didalam petai dan jengkol ada senyawa rahasia yang menyebabkan orang merasa bahagia ketika makan. Cocok sekali untuk orang-orang yang tidak hobi makan, tapi ngemilnya luar biasa.


Begitulah, jengkol dan petai terlihat tidak menarik dan kampungan. Tapi ia natural dan memiliki faedah bagi tubuh kita.


Saat tak tahu ingin menulis apa,
12 April 2014 pk 08.04

Selasa, 12 Agustus 2014

HARGA

Oleh :Rika Januarita Haryati

Seorang temanku pernah bertanya, "kenapa ya pengen hidup lurus aja susah banget? Sedang kalau hidup di jalan yang sesat, kita bakal dimusuhin orang. Parahnya, bakal dikucilkan oleh teman-teman. Paling super duper parah, ya temannya cuma orang-orang sesat juga". Ia menutup komplainnya dengan cemberut, kepadaku. Ya, nasib. Jadi seolah-olah ia sedang 'marah-marah' kepadaku.

"Oh, my dear...", kataku kemudian. Panggilan demikian tentu saja akan meredam panas hatinya sekaligus akan membuat yang memanggil terlihat anggun, sabar, dewasa dan bijaksana. (halah..:))

"Apanya yang susah?", lanjutku kemudian. "Mungkin dengan susah-susah itu kita akan lebih menghargainya."

"Pernahkah Kau mengambil air dari sungai untuk diangkut pulang ke rumah? Aku yakin kau akan lebih menghargainya meski hanya seember dua ember. Kau akan menggunakannya dengan efektif. Tidak membuang-buangnya dengan sia-sia. Tapi coba Kau bandingkan saat di rumahmu telah tersedia ledeng. Air dapat mengalir deras dari keran. Tentu saja kita dapat menjadi boros dalam menggunakannya, tanpa perhitungan dan suka-suka saja. Mungkin kita tak akan merasa sayang pada air tersebut. Ibaratnya, jika Kau mandi dengan air yang Kau ambil dari sungai, dua ember saja sudah merasa cukup dan bersih. Bandingkan dengan saat mandi dengan air memenuhi bak yang mengalir dari keran. Satu bak habispun mungkin kau tak merasa sayang, merasa tidak apa-apa. Bukan begitu, my dear?

Ya, semua orang tahu bahwa setiap kesusahan akan melahirkan penghargaan yang tinggi. Mengapa nama Bukhari begitu terkenal hingga ke penjuru dunia? Karena ia adalah seorang pakar hadits. Bukan, bukan itu. Selain beliau, masih banyak pakar hadits lainnya. Ya karena dedikasinya terhadap keilmiahan hadits tersebut. Bersusah payah menemui para perawi hadits yang didengar dan dihafalnya. Menyeleksi keshahihan hadits. Bolak-balik dalam perjalanan meneliti hadits. Maka wajar jika generasi selanjutnya menyematkan namanya dengan tinta emas sejarah.Masya Allah.

Masih banyak sekali nama-nama keren lainnya yang akhirnya menjadi rujukan dalam tafsir Alquran ataupun hadits. Maka selanjutnya banyak bermunculan ulama-ulama yang mumpuni di berbagai lini kehidupan.

Segala hal di dunia ini ada harganya. Tinggal tingi atau rendah. Ataupun mahal atau murah.

"Bukan begitu, my dear"

Temanku memandang lama ke arahku sambil terdiam. Aku mengira dia akan bilang, "Teteh, matur nuhun..." atau justru komplain yang lain lagi. Eh, ternyata ia malah mencubit pipiku.

"Hei, selama aku dewasa, tidak pernah ada yang mencubit-cubit pipiku, kamu berani sekali", kataku sambil tersenyum dan ingin balas mencubitnya.

Palembang, 29 April 2014

Senin, 11 Agustus 2014

PEMIMPIN, POHON DAN KAKEK TUA

Oleh: Rika Januarita Haryati

Ada seorang pemimpin sebuah negara di Timur matahari. Pemimpin ini berbeda dengan pemimpin kebanyakan. Ia suka berjalan-jalan sendirian. Ke pasar, ke kedai kopi, ke sawah, ke ladang bahkan ke dusun-dusun. Ia pergi sendiri. Merakyat jelata. Seperti musafir. Tak ada masyarakat yang mengetahui identitas aslinya.

Ia berjalan seperti biasa ke suatu dusun. Di sana ia bertemu dengan ibu-ibu yang cerewet sekali. Bicaranya sangat kasar. Wajahnya sangar. Kalau ia bicara, orang mengira ia sedang kesurupan, saking menggelegar suaranya. Maka, tak ada yang berani menegurnya. Menegur sama saja dengan mencari bala. Musibah.

Celakanya, pemimpin yang tak tahu apa-apa ini menegurnya dengan suara yang sangat lembut sambil tersenyum. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sudah mulai tegang. Karena pasti suara perempuan ini akan menggelegar seperti orang yang kesurupan.

Tapi anehnya, perempuan itu justru membalas teguran sang pemimpin yang menyamar tersebut dengan suara yang lembut dan juga sambil tersenyum.

Ramailah bisik-bisik penduduk menyebarkan kabar bahwa perempuan yang kesurupan itu telah sembuh.

Penduduk merubung di sekitar pemimpin sambil bergantian menceritakan penyakit perempuan yang ditegurnya. Mereka bergantian memujim pemimpin yang telah berhasil menyembuhkannya.

Pemimpin yang menyamar ini mengangguk lalu menjelaskan: "Aku datang kemari tanpa membawa prasangka buruk tentang perempuan itu. Dan taukah kalian, aku sangat suka jika orang lain bicara lemah lembut kepadaku dan aku juga menyukai orang yang tersenyum padaku. Maka aku selalu mencoba memperlakukan orang lain seperti. Mungkin selama ini perempuan hanya belajar dari bagaimana orang-orang memperlakukannya".

Sang pemimpin melanjutkan perjalanan yang ia sebut sebagai rihlah.

Pemimpin ini takjub melihat seorang kakek yang telah renta masih mencangkuli tanah lalu menanam sebuah pohon yang masih kecil..

Sang pemimpin mendekati kakek tua lalu bertanya: "Aduhai kakek, apakah yang kau harapkan dari pohon yang masih kecil ini? Mengapa kau bersibuk menghabiskan waktu untuk hal-hal yang mungkin tidak akan kau nikmati hasilnya?"

Kakek tua memperhatikan sang pemimpin sejenak lalu menjawab, " Mungkin aku tak akan sempat untuk menikmati hasilnya, tapi,cucu-cucuku yang akan menikmatinya. Kau tahu anak muda, hasil pohon yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pohon-pohon yang ditanam oleh kakek-kakek kita? Jika mereka berpikir bahwa percuma saja menanam pohon, maka hari ini kita belum bisa menikmati lezat dan manisnya hasil pohon dan buah-buahan."

Sang pemimpin tertegun. Hari ini Ia mendapat satu pelajaran. Seperti janjinya, yang Ia ikrarkan dalam hati bahwa Ia akan membayar seribu dinar bagi seseorang yang mampu memberinya pengajaran atau pencerahan.

Sang pemimpin mengeluarkan kantung uang yang Ia simpan dibalik bajunya. Ia berkata dengan hormat, " Kakek, terimalah seribu dinar ini, karna kau telah mengajariku satu kaidah hidup yang penting". Sang kakek pun terkekeh, " Lihatlah pohonku telah berbuah dengan sangat cepat, bahkan belum lagi kusiram, kupupuk. Subhanallah."

Sang pemimpin tersenyum. Lalu ia memberikan seribu dinar lagi karena kecerdasannya dan karena ia mendapat satu pengajaran lagi. Bahwa perbuatan baik apapun pasti akan mendapat balasan dari Allah. Maka jangan pernah ragu untuk melakukan kebaikan meskipun kecil dan sederhana.

Palembang, 19 Mei 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

C.I.N.T.A

Cinta. Bagi sebagian orang, itu adalah kata yang sakral. Tak boleh sembarang bilang: aku cinta kamu.

Ada juga orang yang biasa saja dengan kata itu. Ya namanya juga ekspresi. Boleh dong tiap hari bilang: aku cinta kamu.


Well, bukan itu masalahnya, Cinta. Di setiap pelafalan maupun pengejaan lima huruf tersebut mempunyai konsekuensi. Oh ya?


Apa konsekuensinya? Ketika kau bilang: cinta, pada siapapun itu maka bersiaplah untuk bertanggung jawab, menerima konsekuensinya.

Siapkah kau menghormati orang yang kau cinta? Siapkah memuliakannya, menjaganya, menggandeng tangannya menuju jalan kebenaran? Siapkah untuk berbeda pendapat? Siapkah sakit hati dan kecewa dengan kekurangannya?


Hati siapa sih yang tidak mekar dan berbunga-bunga mendapatkan salam cinta dari seseorang yang diam-diam juga ia cinta? Tapi di sinilah kerumitannya. Saat cinta keduanya sulit menyatu. Saat jarak tiba-tiba menghempas. Tercipta jurang yang dalam dan curam.


Alangkah sedihnya ketika kita menjadi saksi keduanya memendam cinta tanpa pernah sempat terkatakan. Hanya tersembunyi di palung hati. Berharap pada akhirnya akan tenggelam dan hilang bersama purnama demi purnama.


Tugumulyo OKI, july 5,2014


@rikajanuarita2

anak hujan

anak hujan
ceria dibawah sentuhan manis sang hujan

LabelS