Pages

Jumat, 11 Juli 2014

GURU DAN SPIRIT

Guru dan Spirit

Yang paling berat ketika membaca sejarah adalah mengawali membaca.

Sudah terbayang, bakal bosan,capek,ruwet..

Lagian, ngapain seh mempelajari masa lalu? Masa lalu biarlah masa lalu, kata sebuah lagu.

Tiba-tiba jadi kangen dgn guru SMP, Pak Amin. Beliau mengajar sejarah dengan sangat keren. Sekelas kami dibuatnya selalu antusias.

SMP dulu, bahasan sejarah tentangg perang melawan penjajahan Belanda. Aku masih ingat ketika Beliau bercerita ttg Diponegoro. Heroik. Belum lagi cerita pembakaran kota Bandung (halo2 Bandung), perang 5 hari 5 malam di Palembang, kisah arek-arek Suroboyo. Ceritanya hidup.

Itulah saat pertama kali aku jatuh cinta pada sejarah.

Selanjutnya, meski bagaimanapun guru yang mengajar sejarah, aku tak peduli. Teman-temanku terlihat banyak yang tidur ketika pelajaran sejarah. Aku tetap menegakkan kepala dengan antusias. Karna guru terdahulu sudah berhasil menanamkan spiritnya.

Terima kasih Pak.. semoga akupun punya spirit itu dalam mengajar.


Tugumulyo OKI, July 4 2014


@rikajanuarita2

Kamis, 10 Juli 2014

MIMPI untuk Perempuan

Aku punya impian gini:
Mendirikan semacam 'bank' khusus perempuan. Para Donaturnya perempuan. Kalo ada laki2 mau jd donatur jg akn diterima dg senang hati. Gunanya, utk menolong perempuan yg lg perlu dana utk usaha, utk pinjaman mendadak, utk sumbangan utk meringankan musibah sesama perempuan. oh ya, jg utk beasiswa sekolah.

Kira2 bakal ada yg jd donatur gak ya?

Sedih rasanya dengar adek tingkat gak jadi kuliah ke belanda gegara gak ada uang utk kesana. Begitu jg dg teman2 yg gak ada uang utk ke Mesir, padahal kalo dah disana, beasiswanya cair.

Sedih lg ketika ada teman yg lg kena musibah kecelakaan perlu biaya besar tp gakbs bantu byk.

Blm lg utk keperluan usaha,dll.

Sdh dpt 1 org donatur mungkin perlu 9 org lg.

@rikajanuarita2

Minggu, 30 Juni 2013

BULANKU TURUNCU

Oleh: Rika Januarita Haryati

Aku ingin ke bulan, katanya. Aku tersenyum. Aku yakin kau bisa ke sana bisikku hati-hati. Bahkan kau bisa memilih mau ke bulan yang mana. Aduhai, mengapa harus bersusah hati kalau hanya ingin ke bulan. Malah bulan yang akan mendatangimu. Tanpa perlu repot-repot, toh dia datang sendiri. Rutin lagi.
Jika ingin ke bulan yang paling cantik dan dewasa itu, tunggulah Januari. Banyak orang yang membuat lagu tentang bulan ini. Bahkan banyak juga orang tua yang memberi nama anaknya dengan nisbat pada bulan ini. Januari adalah bulanku. Apakah kau mau kesana?

Tapi Januari telah berlalu, bukan? Mau secantik apapun, kita pasti akan meninggalkannya. Bahkan terkadang tanpa sempat say goodbye. Ya begitulah. Hidup ini bersiklus. Berputar. Datang hanya untuk kemudian pergi. Lalu datang kembali tapi juga pergi lagi. Dan begitulah seterusnya.

Tentu kau tahu, Januari adalah bulan pertama. Bulan yang paling dinantikan. Ia adalah pionir. Ada sebelas bulan yang ia pimpin berbaris di belakangnya. Bulan lain takkan berani mendahului datang sebelum ia menghabiskan masanya.

Januari dinisbatkan sebagai tahun yang baru. Setiap Ia datang berarti tahun harus berganti. Semua orang berlomba-lomba membuat program hidup selama setahun nanti. Meskipun ada yang kukuh dengan prinpsip let it flow like water. Tak perlu sibuk membuat agenda setahunan. Toh banyak hal tak terduga yang bakal terjadi. Dan aku baru sadar. Ternyata aku kehilangan agenda yang telah kurencanakan untuk tahun ini. Maka, sekarang hanya melaksanakan poin-poin besar yang kuingat. Selebihnya, aha, let it flow like water.

Bermacam tingkah polah orang dalam merayakan Januari. Ada yang sibuk berpesta padahal bencana nasional baru saja melanda. Ada yang mengadakan dzikiran. Ada yang merenung. Ada yang cuma bengong. Ada juga yang menghabiskannya di rumah sakit. Ya namanya juga rupa-rupa kehidupan.

Januari adalah bulanku. Bulanku yang turuncu (orange). Bulan yang menawarkan keramahan sekaligus semangat. Penuh gegap gempita dan gelora. Membungkus cita-cita dalam optimisme. Cerah meski sesekali rinai.

Bulan ini jua yang membasuh luka-luka. Mengobati segala kerinduan. Membentangkan harapan. Yang paling terpenting, di bulan ini aku mendapat banyak hadiah yang paling indah. Doa. Aku didoakan orang-orang, tulus tanpa kuminta. Mendoakan agar aku selamat dunia akhirat. Agar umurku berkah. Mereka ingat pada bulan ini saja aku sudah bahagia apalagi ditambah doa. Doa yang baik adalah cermin hati seseorang yang baik. Yang selalu berharap agar saudaranya selalu berada dalam kebaikan. Oh, terima kasih banyak.

Aku tahu, laki-laki terkasih meninggalkanku pada bulan ini. Aku masih merasakan kesedihannya hingga sekarang bahkan sampai kapan pun. Setiap mengenangnya, airmataku berderai. Seolah ingin membelai sayang dan menyuruhku bersabar. Karena ia tak mungkin memintaku untuk melupakannya. Bukan, bukan karena aku tak ikhlas. Tapi dia memang sangat berharga dalam kehidupanku.

Dia mengajarkanku tentang kejujuran bahkan saat aku belum memahami kosakata yang banyak. Ia yang mudah tersenyum. Ia yang tak pernah sekalipun kulihat menangis. Ia yang paling tampan. Ia yang kesabarannya laksana gunung. Ia juga yang menambahkan Januari sebagai namaku. Dan itu adalah nama panggilan kesayangan Pak RT kami. Thank you so much Pa, for everything. Aku sedang membuat hadiah spesial untukmu. Soal Bunda, kau tak perlu khawatir. Ia perempuan terbaik yang pernah kulihat. Ia perempuan pejuang.

Overall, bagiku Januari adalah bulan turuncu (orange). Seperti orange, ia kadang manis, asam, ceria, sendu, namun tetap bersinar. Aku suka Januari. Meski kota-kota meriah dengan segala pesta dan hura-hura tapi sejatinya ia itu sangat bersahaja.

Aku masih percaya, duhai bulanku, kau memimpin yang lainnya dalam perjalanan yang panjang. Semoga kau tak bosan menyaksikan manusia yang beranak pinak namun menyambutmu dengan kebahagiaan semu dari generasi ke generasi. Padahal, sejatinya kau itu sederhana. Tak perlu ada pesta. Tak perlu kembang api. Tak perlu bakar jagung. Karena tanpa itu semua kau telah punya keanggunanmu sendiri. Sinar sendiri.

Ba’da imtihaahun.

Palembang, 14 Juni 2013 pk.16.23

ANUGRAH

Oleh: Rika Januarita Haryati

Indah di mata, mengapa tak indah di hati? Indah di jiwa, mengapa tak indah di diri? Indah di mata nan indah di hati. Anugrah. Sesuatu yang diberikan Sang Pencipta, itulah anugrah. Setiap kita mempunyai anugrah yang berbeda. Mata jelita, tentu itu adalah anugrah. Badan yang gagah itu pun anugrah. Bagaimana karakter fisik kita, itu anugrah. Lahir dari orang tua mana itu anugrah. Semua yang diberikan pencipta begitu saja adalah anugrah.

Oh, apakah lantas wajib sedu sedan jika pada diri tidak dianugrahi wajah nan cantik, mata jelita, orang tua kaya dan terpandang?apakah lantas wajib menekuk diri jikalau tidak dianugrahi wajah tampan, badan atletis, orang tua terhormat dan tajir? Apakah harus merasa menjadi orang malang sedunia jikalau tidak dianugrahi hal-hal hebat yang dimiliki para pesohor-pesohor yang sering muncul di televisi?

Ya tentu tidak. Karena ada anugrah yang sangat bisa kita usahakan. Anugrah ini jauh lebih hebat dan lebih hakiki. Pesonanya jauh lebih kuat. Pengaruhnya sangat dahsyat. Semua orang boleh memilikinya. Tak peduli bagaimana rupanya, anak siapa, tinggal dimana, suku apa, dan lain-lain. Bahkan umur pun tak menjadi soal.

Baiklah, orang-orang familiar menyebut anugrah ini dengan inner beauty. Apa saja perangkat inner beauty? Attitude, sikap dan pemikiran. Sopan santun itu jauh lebih mempesona ketimbang cantik tapi attitude-nya amburadul. Lemah lembut, penyayang, tulus itu jauh lebih keren ketimbang tampan, kaya, tapi kasar, acuh, sombong.
Memang sih akan lebih keren lagi kalau wajah rupawan, kaya, terhormat, terpandang ditambah baik, sopan, ramah, emosinya bagus, religius, murah senyum dan dewasa serta bijaksana pemikirannya. Itu kerennya pol. Tapi sayangnya, zaman sekarang ini agak susah menemukan permata mutu manikam seperti itu. Yang sering terlihat itu, kalau kaya cenderungnya sombong, gengsi tinggi, tinggi hati (halah ini apa bedanya dengan sombong ya..). Kalau cantik atau tampan cenderungnya meremehkan orang yang menurutnya tidak rupawan. Kalau anak orang terpandang cenderung bergaya selebritas. Pengen tampil melulu, ups.

Baik kembali ke anugrah yang bisa diusahakan tadi. Semua bisa diusahakan. Kalau memang mau. Mau mempunyai sifat sabar. Tak ada usaha yang lebih mumpuni selain selalu bersabar dalam menghadapi ujian, kemarahan, ketergesa-gesaan. Kalau ingin mempunyai sifat yang dermawan ya tidak ada cara lain selain berbagi dengan orang lain. Kalau ingin religius, mau tak mau harus membiasakan diri dengan aturan-aturan dalam agama. Tapi pasti berat. Ya iyalah. Dimana-mana yang namanya awal, pasti terasa berat. Tapi lama-lama kita akan terbiasa. Lama-lama terasa ringan. Ibarat membawa beban lima kilo, awal-awal tentu saja berat. Tapi jika sudah terbiasa akan terasa ringan. Bahkan bisa jadi ketika bebannya ditambah pun kita tidak merasa berat.

Ajaibnya, banyak manusia yang lebih tertarik dengan anugrah yang memancar dari dalam ini. Orang-orang inner beauty ini lebih kita butuhkan untuk menjadi teman karib. Bukan hanya teman sekedar have fun. Dan kebanyakan nih, hubungan kita dengan orang-orang yang memiliki anugrah inner beauty ini akan terjalin jauh lebih lama
ketimbang yang hanya sekedar memiliki anugrah outer beauty.

Palembang, 5 Juni 2013 pk. 06.24

Sabtu, 28 Juli 2012

APRESIASI

Oleh: Rika Januarita Haryati


Aku suka sekali surat An Nisa. Do you know why? Karena An Nisa itu menceritakan tentang WANITA. Aku juga suka surat yang lain, tapi An Nisa itu paling istimewa. Allah sangat memuliakan wanita. Mana ada surat Ar Rijal? Nggak ada kan?


Di surat An Nisa itu terkandung tentang hukum-hukum, larangan memakan riba, ciri orang bertakwa, kematian hanya akan terjadi dengan izin Allah, makna kesuksesan yang sesungguhnya, perintah untuk bertakwa dan memelihara hubungan kekerabatan, perintah untuk memelihara harta anak yatim, balasan bagi mereka yang kikir, ampunan Allah dan surga bagi orang-orang yang bertakwa, anjuran menafkahkan sebagian harta yang dicintai dan larangan mengambil yahudi sebagai teman kepercayaan. Itulah ciri surah An Nisa. Alhamdulillah…ternyata al Quran itu kaya dengan surat-surat yang bermakna.

(Amira, Kelas V SDIT Al Uswah)


Cerita diatas kukutip dari tulisan seorang anak SD kelas V. Subhanallah. Tulisannya sepertinya biasa saja. tapi aku benar-benar dibuat takjub dan sangat terkesan. saat masih sebelia itu, Amira telah sibuk menuliskan surah yang paling ia sukai dalam Al Quran. Lalu dengan lugas menceritakan poin-poin yang terkandung dalam surah tersebut. Ah, subhanallah. Kau tahu Amira, aku juga suka sekali dengan surah tersebut.


Oh iya, biar kutambahkan sedikit hal lagi tentang poin surat An Nisa. Tentang mahar, warisan, thalaq, para perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, taat pada Allah, rasul dan ulil amri, perang di jalan Allah, kisah orang munafik, adab salam penghormatan, qasar sholat, sholat khauf, balasan kebajikan, dll. Sungguh, sangat kompleks sekali. Ya, karena perempuan itu sangat spesial.

(Apresiasiku atas tulisan Amira di atas)


Apresiasi. Apa yang kau pikirkan dari kata ini. Penghargaan. Kepada siapapun. Terkait kebajikan dan bahkan usaha kebajikan seseorang yang coba ia lakoni. Meskipun ia hanya seorang anak kecil yang sekali lintas mungkin tak memiliki pengaruh sedikitpun bagi kita.


Tapi, tahukah kau, bahwa apresiasi kita adalah pedomannya melangkah ke depan? Apakah akan tetap menyukai kebaikan atau melupakannya. Apakah akan tetap menyimpan kesan-kesan kebaikan diatas lembar-lembar kertas atau membuangnya. Apakah akan menjadikan kebaikan sebagai pilihan hidupnya? Atau lupakan semua. Ikuti saja arus yang paling deras. Dan semua selesai.


Apresiasi adalah penghargaan. Sederhananya begitu. Meski hanya dengan mengucapkan terima kasih karna si kecil telah membantu kita mengambilkan pena. Meski hanya dengan berkata: 'Nadiya baik deh mau bantu Amah'. Atau dengan senyum semanis gula saat si kecil membagi makananannya kepada temannya. Atau lagi, meski hanya dengan sapaan "hai cantik" saat si kecil melintas di hadapan kita. Percayalah, semua itu menunjukkan apresiasi kita. Dan yakinlah, ia pun sedang belajar mengapresiasi orang lain sejak dini.


Yakinlah, takkan berkurang wibawa hanya karena kita menghargai orang lain. Menghargai tindakannya, pemikirannya, nasehatnya, kritikannya dan perasaannya. Menghargai setiap usahanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Menghargai setiap lelucon yang dilontarkannya meski terasa garing. Hargailah setiap tawa. Pun jikalau akhirnya ada kisah yang menitikkan air mata. Hargailah apa-apa yang patut mendapat penghargaanmu. Karna bisa jadi ketepatan penghargaanmu adalah kebahagiaan bagi seseorang.


Siapa yang mampu membeli apresiasi? Tidak ada. Secanggih apapun global market di dunia ini nantinya, apresiasi tidak pernah dijual. Jika ada yang terang-terang menyebutkan mampu menjual dan menyebutkan harga nominal dari apresiasi, maka pastinya itu bukan apresiasi, itu kepalsuan. Karena sejatinya apresiasi itu dari hati. Maka, kau yang merasa telah dihargai, baiknya bisa membalas menghargai dengan penghargaan yang lebih baik atau yang sepadan.


Apresiasi itu milik siapa saja. Dia bisa diberikan kepada siapa saja. Mana peduli ia kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau biasa. Tapi tentu saja yang mendapat apresiasi itu selalu adalah orang-orang yang bergerak untuk perubahan, orang-orang yang teguh pada prinsipnya, orang-orang baik, orang yang sabar, orang yang bermanfaat bagi sesama, seorang ibu yang baik, istri yang sholihah, suami dan ayah yang mencari nafkah dengan halal, orang-orang yang menjaga kehormatan diri, anak-anak, pejabat yang adil, pekerja yang amanah, dll. Tentu, masih banyak kriteria lainnya.


Ya, semua berhak mendapatkannya. Semua kebaikan dan yang menjalani kebaikan berhak atas setiap apresiasi. Tidak main-main, bahkan mereka inipun telah mendapat apresiasi langit. Mereka adalah orang-orang beruntung yang diapresiasi langit dengan balasan yang lebih baik. Bahkan tak jarang apresiasi itu adalah surga.


Kecil dan sederhana saja awalnya. Hanya dari apresiasi. Tapi memang tak mudah memberikan apresiasi. Butuh jiwa yang lapang. Butuh pemahaman akan kebaikan. Butuh hati untuk mengapresiasi. Karna apresiasi tanpa hati pasti terasa basi.


(Sungguh Amira, terima kasih atas tulisanmu tentang surat An Nisa, aku jadi banyak merenung tentang banyak hal).

Tugumulyo OKI, 29 Juli 2012/8 Ramadhan

Kamis, 07 Juni 2012

TERKENANG LINGGAU



Linggau bagiku adalah kota yang sangat ramah. aku sudah beberapa kali kesana, namun setiap kembali lagi kesana selalu ada kesan mendalam yang kusimpan. Di Linggau, banyak kutemui teman-temanku yang dulu pernah berkarya di Palembang, bahkan ada yang memang berasal dari Palembang. Ada keharuan dan kegembiraan tersendiri saat bertemu mereka di tempat yang berbeda.

Linggau selalu mengingatkanku pada satu organisasi kemahasiswaan, KAMMI. Meski baru bergerak ditataran komisariat, KAMMI Komisariat Al Qassam telah menjalankan roda organisasinya dengan baik, setidaknya tidak terlalu tertinggal jauh dengan komisariat yang berada di pusat pergerakan yaitu Palembang. Terlihat betapa enerjik dan semangatnya mereka saat mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh KAMMI Daerah SUMSEL. mereka terkadang naik kereta api dengan lama perjalanan kira-kira 8 jam. it's amazing (padahal kalau pengurus KAMMDA jaulah juga biasa naik kereta api, terkadang malah kelas ekonomi).

Aku telah beberapa kali kesana atas undangan pengurus komisariat. Ya, sebagai utusan KAMMDA. Tapi tak pernah aku merasa lebih dari mereka. Mereka nyapu, aku juga nyapu. Mereka berpeluh diterik matahari siang hari saat outbond, aku juga sama. Mereka makan nasi bungkus, aku juga tak mau dibedakan. Bahkan aku dan Ayie (temanku yang juga utusan KAMMDA) tak segan tidur beralas lantai satu ruangan dengan panitia. Kami melakukan semuanya dengan bahagia. Dan kami juga tidak menutup mata bahwa mereka berusaha dengan keras untuk memberikan layanan yang terbaik. Sungguh, mereka membuatku terharu. Tapi tentu saja aku tahu, bahwa kami yang diutus ini sedianya adalah pelayan, pelayan ummat.

Aku ingat ketika salah seorang pengurus komisariat terlihat sangat repot menyediakan ini itu dan tetek bengek untuk melayani kami. Aku sempat menolak dengan halus dengan mengatakan tidak perlu repot-repot, kami tidak mau merepotkan. Jawaban mereka sangat berkesan sekali bagiku: mbak, kata bibiku, kalau tidak mau merepotkan orang lain, tidak usah berkawan dengan orang. Asli, setelah itu aku pasrah saja mereka mau berbuat apa. yah, mau bagaimana lagi? mereka termasuk orang-orang yang ngotot dalam kebaikan. Terima kasih ya teman-teman KAMMI Komisariat Al Qassam especially Geger, Desri, Silvi, Emilda.

Pada suatu kesempatan, lagi-lagi KAMMDA mengutus aku dan satu temanku yang lain yaitu Umi untuk menghadiri musyawarah komisariat (Muskom). Citra tentang Linggau masih tetap sama. Namun, kami menjadi semakin akrab. Pada detik inilah, kami bisa menikmati keindahan kaki Bukit Sulap. lagi-lagi it's amazing!

Sampai sekarang, bagiku Linggau adalah kota yang ramah, meski aku tak tahu kapan ditakdirkan untuk kembali kesana. Ada banyak wajah yang kucinta, mereka adalah orang yang hatinya baik lagi tulus. Mereka adalah orang yang begitu kami datang, mereka menyambut dengan air wajah yang bahagia. Bahkan ketika kami pulang pun wajah tulus mereka masih tetap terpancar disela-sela wajah letih setelah tiga hari melaksanakan dauroh (pelatihan). Senyum mereka selalu kusimpan dalam-dalam. Mungkin senyum mereka jua yang membuat kerinduanku membuncah. Rasanya ingin kembali ke Linggau. Kembali ke kota yang ramah. Kota yang hangat.

Apa kabarmu hari ini duhai Linggau? Sungguh aku benar-benar merindukan beberapa wajah yang kau kandung.

Tugumulyo OKI, 7 Juni 2012 pk.23.00 WIB












Rabu, 06 Juni 2012

AKU CINTA KAU




Oleh: Rika Januarita Haryati

Aku cinta kau, Hujan
Bukan karna dingin guyuranmu
pada gersang wajah
Bukan karna gagahmu
meluluhlantakkan setiap kepingan hati

Aku tahu, Kau
Memesona mata
Kau, berharga
Kau, setia

Namun bukan karena itu aku cinta kau
Bukan pula karna aku tak bisa hidup tanpa kau
Sungguh bukan..

Aku cinta kau, Hujan..
Karena kau tak henti membagi cinta
Menaburkan rahmatNya
Dan menyentuh hatiku dengan lembut

Meski terkadang kau garang, hujan
Sungguh, cintaku takkan berkurang,
Kan tetap karang

Aku cinta kau...
Hujan

anak hujan

anak hujan
ceria dibawah sentuhan manis sang hujan