Pages

Kamis, 07 Agustus 2014

IT'S RAINNING

Oleh; Rika Januarita Haryati


It's rainning

Ini adalah hujan
Yang mengantar basah pada kuncup bebungaan

Ini adalah hujan
Yang mengantar rindu dari langit

Ini adalah hujan
Yang menghiburmu dgn berjuta melodi

It's rainning..

Semoga kau hantarkan pula salam ke negeri-negeri nun jauh disana..

Sambutlah bila mana aku datang.

Bi idznillah, aku kan bertandang.


Palembang, 17 April 2014

Rabu, 06 Agustus 2014

OH, MY NAME

Oh, My Name

Oleh: Rika Januarita Haryati

Namaku sebenarnya simple. Memang panjang. Tapi tidak susah dituliskan dan juga tidak rumit dilafalkan.

Namaku memang sekilas seperti nama dalam bahasa Jawa. Wajar. Rumahku di Tugumulyo Kabupaten Ogan Komering Ilir diapit oleh oleh orang-orang Jawa. Ajaibnya, aku bisa berbahasa Jawa. Meski cuma bahasa pergaulan, bukan kromo inggil. Bahkan logatnya juga bisa. Jadi, aku sangat maklum jika orang-orang yang mengenalku mengira bahwa aku gadis Jawa. Padahal, aku tidak punya garis darah Jawa.

Kembali ke namaku. Meski namaku sederhana, banyak orang yang salah dalam menuliskannya. Misalnya:
~Rika Januarika H
~Rika Januarti H
~Rita Januarita H
~Rika Janwarita H
~Rika Januarta Hariyati (KTP)
~Rika Januarita H. Aryati
~Rika Januarita Hariyati (Rek)
~Rika Januarti Haryati
~Dll, masih banyak inovasi yang lain

Terbayangkan capeknya untuk membetulkan namaku agar sesuai dengan akte kelahiran. Maka biasanya biar mudah, kalau yang tidak perlu nama lengkap, aku hanya menuliskan Rika JH saja. Biar singkat. JH (Jeha) adalah panggilan kesayangan teman-teman di kampus.

Ada yang bertanya:"Ayuk, nama sepanjang itu apa artinya sih?"

Untuk zaman sekarang, namaku tidak terlalu panjang. Tapi di zamanku waktu kecil, namaku paling panjang satu kampung. Yang bisa menandinginya hanya nama saudara-saudaraku.

Baiklah, aku terangkan artinya. Ini nama keren sekali , hanya orangnya saja yang belum keren. Masih kurang unsur N. Jadi sampai sekarang masih kere.

Here we go. Kata Rika ini sangat terkenal sekali. Banyak negara terinspirasi oleh kata ini, Amerika Serikat, Kosta Rika, Puerto Riko (ketiga negara ini berada di benua Amerika) dan Afrika. Bahkan dua dari lima benua di dunia menggunakan kata ini yaitu benua Amerika dan Afrika.

Rika (Denmark) berarti abadi, sendiri, penguasa. Dalam bahasa Swedia berarti penguasa, pemimpin agung. Menurut bahasa kita tercinta, Indonesia, berarti: perasaan pada keadilan, damai, sejahtera. Maka dalam kata Jerman, Roderica berarti raja yang masyhur. Sarika dalam kata Hungaria berarti putri raja. Oh ya, di Jepang, Rika berarti berkah yang berharga.

Kata Januarita diambil dari nama bulan pertama dalam kalender Masehi karena aku terlahir di bulan tersebut. Mungkin agar orang-orang mudah menebak bulan kelahiranku. Jadi kalau orang baru berkenalan denganku, refleks mereka akan bilang: "pasti lahir di bulan Desember kan?"

Haryati. Nah ini nama Jawa. Berasal dari kata aryo/arya atau haryo/harya yang berarti berhati mulia atau yang mulia. Banyak digunakan untuk nama gelar raja keraton atau bangsawan Jawa. Misalnya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo atau Gusti Raden Mas Haryo atau Kanjeng Raden Haryo Tumenggung, dll. Masih ingat kan nama Aryo Kamandanu atau Aryo Dwipangga yang terkenal dalam kisah kerajaan Singosari?

Nah, akhirnya marilah kita simpulkan agar tiada lagi kesalahan demi kesalahan berulang-ulang. Agar tiada menjadi nila setitik rusak susu sebelanga. Mulai lebay.

Seorang perempuan, pemimpin agung yang lahir di bulan Januari, berhati mulia, mendalam perasaannya pada keadilan, kedamaian, kesejahteraan, semoga dapat menjadi berkah yang berharga dan abadi.

Aamiin

Terima kasih Papa-Bundaku sayang atas nama yang indah nan cindo nian ini.

Terima kasih sudah membaca.

Tugumulyo OKI, July 7,2014
9 Ramadhan 1435 H

Selasa, 05 Agustus 2014

Jika Kemarin, Mengapa Sekarang?

Oleh: Rika Januarita Haryati


Jika kemarin kau hamburkan semerbak kemuning,
Mengapa hari ini kau hindari?

Jika kemarin kau kirim sekeranjang mawar,
Mengapa hari ini bahkan tiada ucapmu sepatahpun?

Jika kemarin kau mekarkan hatiku,
Mengapa sekarang kau biarkan merana?

Jika kemarin kau sebut-sebut namaku dengan merdu,
Mengapa kini tak terdengar suaramu?

Jika kemarin begitu,
Mengapa sekarang jadi begini?

Aduhai, haruskah kucabut mawar yang merona di taman?

Duhai, haruskah kugilas semua semangat yang menyala?

Awan, apakah kau percaya bahwa masih ada air yg kan kau bawa?

Sungguh, aku ingin terus percaya dan setia
Sebagaimana kau percaya dan terus setia.

Sungguh, hatiku telah berpasrah dan menyerah kepadaMu, duhai Rabbi..

Tugumulyo OKI, July 4, 2014

Senin, 04 Agustus 2014

RINDU

Rindu

Rindu rumah mungil bertaman hutan

Rindu sosok yang menanam pepohonan

Rindu memetik sayuran segar dan sehat

Rindu memanen pepaya, mangga, duku, pisang dan jambu

Rindu menyirami bunga-bunga bersama shalawat

Rindu wajah sepuh itu
wajah yg menggurat beban kehidupan
Bahkan, aku belum membahagiakannya.

Maaf.
Maaf.
Maaf.

Rindu
Pulang

Palembang, June 20,2014


@rikajanuarita2


Minggu, 03 Agustus 2014

Merdeka Jiwa

Berjalan sudah jauh sekali. Berputar dan berkeliling. Tiba-tiba harus berhenti. Mengulang ke start di tempat yang lain.

Istirahat sejenak. Sambil mencermati langit. Bintang memang banyak bertabur. Tapi tak berani menunjuknya meski satu saja.

Bertahan menjadi sebuah kemestian. Atau lanjutkan lagi perjalanan ini ke tempat yang jauh di sana?

Senyum ini mulai masam. Tapi ketika terbayang wajah cantik para gadisku, Nadya, Kayyisa dan Nurin, senyum ikhlas kembali merekah.

Ya, selain pengalaman, hidup juga mengajarkan penerimaan.

Kholasho-ikhlash. Membebaskan, melepaskan. Memerdekakan.


Palembang, 20 Juni 2014


@rikajanuarita2

Sabtu, 02 Agustus 2014

C.I.N.T.A

Cinta. Bagi sebagian orang, itu adalah kata yang sakral. Tak boleh sembarang bilang: aku cinta kamu.

Ada juga orang yang biasa saja dengan kata itu. Ya namanya juga ekspresi. Boleh dong tiap hari bilang: aku cinta kamu.


Well, bukan itu masalahnya, Cinta. Di setiap pelafalan maupun pengejaan lima huruf tersebut mempunyai konsekuensi. Oh ya?


Apa konsekuensinya? Ketika kau bilang: cinta, pada siapapun itu maka bersiaplah untuk bertanggung jawab, menerima konsekuensinya.

Siapkah kau menghormati orang yang kau cinta? Siapkah memuliakannya, menjaganya, menggandeng tangannya menuju jalan kebenaran? Siapkah untuk berbeda pendapat? Siapkah sakit hati dan kecewa dengan kekurangannya?


Hati siapa sih yang tidak mekar dan berbunga-bunga mendapatkan salam cinta dari seseorang yang diam-diam juga ia cinta? Tapi di sinilah kerumitannya. Saat cinta keduanya sulit menyatu. Saat jarak tiba-tiba menghempas. Tercipta jurang yang dalam dan curam.


Alangkah sedihnya ketika kita menjadi saksi keduanya memendam cinta tanpa pernah sempat terkatakan. Hanya tersembunyi di palung hati. Berharap pada akhirnya akan tenggelam dan hilang bersama purnama demi purnama.


Tugumulyo OKI, july 5,2014


@rikajanuarita2

Jumat, 01 Agustus 2014

Berangkat dari Mana?

"Mengapa kamu ambil sastra arab?" tanyaku pada seorang teman.
"Kata Imam Syafi'i, jawabnya, kesungguhan beragama seorang non arab itu dapat dilihat dr kesungguhannya mempelajari bahasa arab".

Rasanya ingin sekali menyela. Banyak kok di luar sana muslim dan muslimah yang dapat beragama dengan sangat baik meski mereka tidak bisa berbahasa arab. Lagian zaman sekarang banyak kok buku-buku terjemahan. Tapi, itukan pendapat Imam Syafi'i bukan pendapat pribadinya. Waduh.

Akhirnya aku bertanya lagi:" Terus, mengapa kamu ambil konsentrasi jurusan Timur Tengah?"

Dengan santai Ia menjawab:" Kan kita mau menyelamatkan Palestina. Nak nyelamatke Palestin kito nih."

Jleb! Aku tak bisa berkata-kata lagi. Tetiba teringat bahwa Imam Syafi'i itu hijrah ke dusun yang bahasa arabnya fasih dan masih murni untuk belajar bahasa arab. Padahal Beliau lahir di Ghozza lalu hijrah ke Mekkah. Tapi Beliau tetap mempelajari bahasa arab. Ternyata salah satu syarat menjadi ahli fiqih adalah paham bahasa arab beserta kaidahnya.

Ya, bahasa arab memang penting. Jika aku punya kesempatan, insya Allah aku akan mempelajarinya.

Ketika PPL dulu aku sudah berazzam untuk menghafal karna banyaknya waktu luang di sekolah. Awalnya lancar jaya. Baru terasa payahnya ketika sudah mengumpulkan beberapa surat. Repotnya, ada ayat2 yang kembar tapi beda, serupa tapi tak sama. Oh, seandainya aku bisa bahasa arab, mungkin menghafal akan terasa lebih mudah.

Ya, berangkat dari sana. Akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari bahasa arab. Dan ternyata Allah mendengar bisik hatiku. Dia berikan karunia begitu besar kepadaku. Aku berkesempatan mempelajari bahasa arab.

Bahagia rasanya dapat menjadi santri. Meski kadang aku suka cemburu pada anak-anak pesantren. Mereka itu belajar terus, bahkan sampai malam hari sedangkan kami cuma setengah hari. Pasti ilmu mereka buanyak pake banget. Muda, banyak ilmu tapi humble, mudah2an menjadi karakter para santri di manapun.

Eh tahu nggak, kalo para santri sudah punya hari khusus. Bukan setahun sekali lho, tapi seminggu sekali. Jum'at adalah hari besar mereka. Karna di hari itu biasanya ada menu spesial sekali, gulai ayam. Di hari itu juga mereka menikmati liburan. Makanya serem sekali kalau hari santri diganti pas 1 Muharam, gulai ayamnya cuma keluar setahun sekali dong. Gak asyik banget kan?

Ya, meski terlambat jadi santrinya, it's okay. Tiada kata terlambat untuk belajar. Tiada kata tua untuk memutuskan hidup bahagia.

Tugumulyo Oki, July 5,2014


@rikajanuarita2

anak hujan

anak hujan
ceria dibawah sentuhan manis sang hujan