Pages

Kamis, 14 Agustus 2014

MAHASISWA ABADI

Mahasiswa Abadi (PartI)


Oleh: Rika JanuaritaHaryati


Mungkin ada yang senyum-senyum sendiri membaca judul di atas. Judul yang disematkan untuk mahasiswa yang menamatkan studinya dalam rentang waktu lebih dari 10 semester. Well, pada tahun-tahun reformasi, hal tersebut adalah hal yang lumrah. Biasa saja.


Banyak mahasiswa yang berlama-lama studi di universitas, terutama kalangan aktivis. Alasannya,tentu saja berhubungan dengan pengkaderan organisasi kemahasiswaan. Atau adajuga sih yang mengaku bahwa sengaja menjadi mahasiswa abadi karena mendapat fasilitas yang menguntungkan atas status tersebut, misalnya beasiswa.


Selain itu, ada alasan lain juga, opurtunitis sih memang, misalnya membangun jaringan dengan pejabat pemerintahan. Kalau berstatus sebagai mahasiswa kemungkinan besar selalu dapat memotong jalur protokoler yang ribet dan panjang. Lah kalau misal si pejabat tidak mau menemui, tinggal di demo saja, beres kan?


Alasan lain adalahkarena studinya itu sendiri. Misalnya masa penelitian yang panjang. Ada temankuyang mengambil penelitian mikrobiologi. Bakteri atau jamur yang ia tanam tidaktumbuh dengan baik. Maka ia mengulang kembali prosedur dari awal sambil nangisbombay, karena kalau sampai menangis betulan, dia bakal diminta menutup pintulaboratorium dari luar.


Ada juga yang tidakpunya alasan mengapa bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. Ternyata ia lupa kalau belum membuat skripsi karena terlalu keasyikan berbisnis. Apalagi bisnisnya sama sekali tidak membutuhkan gelar, hanya membutuhkan skill yang sekarang sudah dimiliki serta pengalaman, yang sekarang sedang ia eksplorasi.


Aduh, kalau mau kita list, akan lebih banyak dan ramai lagi alasan yang lain.


Nanti kita lanjutkan kembali, insya Allah.
At home, 24 April 2014 pk 04.00

Rabu, 13 Agustus 2014

RANGKAI CERITA SEDERHANA

Oleh: Rika Januarita Haryati


Cerita 1


Hari itu aku membagikan kertas hasil ujian anak kelas XII IPA. Tiba-tiba seorang muridku berdiri sambil membawa kertas ujiannya. Ibu, nilainya salah, katanya. Aku segera memeriksa kembali hasil penilaianku. Aku tidak mendapatkan hal yang salah dengan penilaiannya.

Aku:”Apanya yang salah, Nurul?”

Muridku:“Ibu, jawabanku yang nomor sepuluh ini salah, tapi Ibu benarkan. Jadi seharusnya nilaiku bukan 88 tapi 86.”

Aku tertawa dalam hati. aku tersenyum kepadanya.Oh, my sweetheart, you’re so sweet.

Aku:“Oh, that’s okay. That isn’t a problem.Please, sit down.” Ia segera duduk kembali.


cerita diatas sangat sederhana. Hanya cerita seorang anak yang merasa tidak berhak atas kelebihan nilai yang didapatkannya. Cuma dua poin memang. Tapi kucatat baik-baik peristiwa itu dalam hatiku. Mungkin hal-hal inilah yang membuatku jatuh hati untuk tetap mengajar disini. Sungguh beruntung aku berjodoh dengan anak-anak yang masih memiliki kejujuran. Sungguh, negeri ini bolehlah tersenyum. Wajah negeri ini bolehlah cerah merona ke depannya. Insya Allah.


Kejujuran adalah emas.Tidak semua orang memilikinya. Hanya hati yang kaya saja yang bisa menyimpan emas itu di dalamnya. Bayangkan, padahal anak-anak yang lain dengan segala daya upaya untuk mencari contekan agar dapat lulus dan mendapat predikat kompeten.Ia memilih berbeda. Berbeda berarti menanggung resiko. Akan ada anggapan yang macam-macam, seperti tidak setia kawan lah,sok pintar lah bahkan sok alim lah. Bagiku, anak-anak yang jujur adalah harta karun bangsa ini. Mereka generasi spesial. Harus kita jaga. Jika tidak kita jaga, maka ia akan hilang.


Cerita 2


Saat itu aku berdiri didekat pinta kantor. Tiba-tiba seorang anak memberikan sebuah bungkusan kado kepadaku.Keningku berkerut. Well, today isn’t my birthday. “Untuk siapa?,” kataku. Jawabannya justru membuat keningku tambah berkerut. Untuk Ibu lah, katanya. Aku berpikir ulang, dan benar waktu itu bahkan bukan bulan Januari.

Me : Ibu? Ibu siapa?

Mystudent : Ibu Rika dong.
Me : Dari siapa ini?

Mystudent : Dari Ibu.

Me : Haa, Ibu siapa?

Mystudent : Dari Ibuku.
Me : Oh thanks. Btw, who’s ur mother’s name?

Mystudent: : Rahasia (sambil tersenyum sumringah)

Me : Hei, just tell me. Oh, baiklah. Nanti Ibu lihat di data kelas saja.

Mystudent : Emang ada, Bu?


Aku mengangguk.Akhirnya muridku itu permisi meninggalkan aku yang agak kebingungan. Oh,mungkin saja ibunya kenal denganku. Aku segera memeriksa identitas muridku untuk mengetahui nama kedua orang tuanya. Hmm ,ternyata aku sama sekali tidak mengenali kedua orang tuanya, terutama ibunya. Tapi jujur saja, ibu muridku ini sangat keren menurutku. Nanti kalau aku punya anak, aku juga akan memberi kado untuk wali kelas anakku. Tentu saja tidak semuanya. Bukan, bukan untuk menyuap. Tapi hadiah yang meski tidak seberapa,jika yang memberikannya adalah wali murid, alangkah berbahagianya guru yang mendapatkannya. Seolah mendapat penghargaan. Guru seolah tersadar bahwa kedudukannya sangat berpengaruh signifikan terhadap pendidikan anak-anaknya.


Dari hal di atas, aku mengambil kesimpulan bahwa, anak muridku ini menceritakan pengalaman belajarnya di sekolah. Sehingga ibunya menjadi mengenal siapa saja yang mendidik anaknya di sekolah sana. Hal tersebut mengingatkanku ketika aku masih kecil, masih SD. Aku dengan lugas bercerita kepada Papa, bermain apa saja, belajar apa saja, bagaimana guru-gurunya. Kuceritakan juga saat aku bertengkar dengan Guntur,saat aku ke kantin sekolah dengan Intan, dsb.


(Guntur dan Intan adalah teman akrabku di SD. Aku sekelas dengan Guntur selama 8 tahun, sampai SMP. Sementara Intan melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Sekarang aku sama sekali tidak tahu dimana keberadaan mereka. Semoga selalu baik.)


Cerita 3


UN adalah momok bagi semua guru yang akan mengawas saat ujian. Bagaimana tidak, para guru akan mengawasi siswa-siswa yang tidak pernah diajarnya. Bukan, bukan itu masalahnya. Mengawas menjadi momen yang tidak mengasyikan jika muridnya ribut sementara kita tidak punya hak untuk mengeluarkan mereka dari ruang ujian. Aku sampai harus memasang wajah cemberut dan super masam saat kulihat gelagat mencurigakan dari siswa-siswa yang berusaha mencontek. Banyak sekali trik mereka ternyata. Dalam hati aku berkata, jikalau siswa ini adalah siswa-siswaku, maka mudah saja bagiku untuk mengeluarkannya dari ruangan. Sementara menjadi pengawas UN, kita ini hanya tamu. Pokoknya selama gerak-gerik mereka tidak tertangkap mataku, kumaafkan saja. Lucunya, ada siswa yang terang-terangan menanyakan jawaban dengan teman di belakangnya. Langsung saja kutegur.


Asli UN ini membuat stress. Bukan hanya siswa yang stress tapi guru juga. Kepala sekolah, diknas, menteri, semua stress. Akankah kestresan ini kita lanjutkan?


UN ini menjadi seperti proyek untuk mengeruk dana APBN. Apalagi dengan adanya Tim Independen UN (TIUN). Lah, selama ujian sebagian mereka tidak mengawasi prosesi ujian. Pas diakhir-akhir jam UN, baru mereka memunculkan batang hidungnya untuk menandatangani ini dan itu. Bayangkan saja kalau satu sekolah TIUN-nya ada 3 orang. Bayaran mereka itu besar sekali lho. Jaman aku mahasiswa dulu, tempat yang dekat dengan kampus saja 100ribu perhari. Kalikan dengan jumlah sekolah di Indonesia. Kalau tempatnya jauh, maka bayarannya bisa berkali-kali lipat untuk transport. Wow sekali kan uang Negara yang kita hamburkan untuk UN ini? Padahal dampak positif UN ini belum dirasakan oleh murid-murid di sekolah. Kalau bikin stress, iya.


Tapi, diantara sejuta ummat yang sedang mengerjakan UN-nya, kulihat seorang siswi berjilbab rapi. Ia tidak kasak-kusuk seperti yang lain. Khusyuk mengerjakan sendiri. Tiba-tiba saja aku berdoa dalam hati: Ya Allah, tolonglah siswa-siswi yang mengerjakan ujiannya dengan jujur. Limpahkan keberkahan atas apa yang dikerjakannya. Aamiin.


Cerita 4


Ketika pembagian rapor,siswaku berdiri untuk menyalamiku. Dimulai dari ketua kelasnya. Ketika siswaku telah dekat, tinggal selangkah lagi, aku buru-buru menyedekapkan tangan ke dada, seperti budaya orang India ketika saling memberi salam. Sambil tersenyum aku berkata: “Maaf ya murid-murid, Ibu tidak bersalaman dengan murid laki-laki”. Dan subhanallah, semua murid laki-lakiku turut menyedekapkan tangan ke dada.


Aku tahu, didalam jabat tangan itu ada doa yang mereka pinta. Aku pun tahu, di jabat tangan itu adakata-kata maaf terdalam. Aku pun tahu, di jabat tangan itu mungkin tersimpan kenangan terakhir karena setelah hari ini kita tidak akan bertemu. Dan aku tidak menyambutnya. Oh, maafkan Ibu ya anak-anakku sayang.


Semoga Allah selalu mengampuniku jikalau ada yang salah dalam proses belajar mengajar. Semoga Allah memaafkan kelalaianku dalam mendidik murid-muridku. Semoga Allah selalu memberiku taufik dan hidayahnya agar ilmu yang telah dikaruniakan-Nya kepadaku dapat bermanfaat secara signifikan. Aamiin.


UNSRI Indralaya, 25April 2014 pk.15.48


Selasa, 12 Agustus 2014

HARGA

Oleh :Rika Januarita Haryati

Seorang temanku pernah bertanya, "kenapa ya pengen hidup lurus aja susah banget? Sedang kalau hidup di jalan yang sesat, kita bakal dimusuhin orang. Parahnya, bakal dikucilkan oleh teman-teman. Paling super duper parah, ya temannya cuma orang-orang sesat juga". Ia menutup komplainnya dengan cemberut, kepadaku. Ya, nasib. Jadi seolah-olah ia sedang 'marah-marah' kepadaku.

"Oh, my dear...", kataku kemudian. Panggilan demikian tentu saja akan meredam panas hatinya sekaligus akan membuat yang memanggil terlihat anggun, sabar, dewasa dan bijaksana. (halah..:))

"Apanya yang susah?", lanjutku kemudian. "Mungkin dengan susah-susah itu kita akan lebih menghargainya."

"Pernahkah Kau mengambil air dari sungai untuk diangkut pulang ke rumah? Aku yakin kau akan lebih menghargainya meski hanya seember dua ember. Kau akan menggunakannya dengan efektif. Tidak membuang-buangnya dengan sia-sia. Tapi coba Kau bandingkan saat di rumahmu telah tersedia ledeng. Air dapat mengalir deras dari keran. Tentu saja kita dapat menjadi boros dalam menggunakannya, tanpa perhitungan dan suka-suka saja. Mungkin kita tak akan merasa sayang pada air tersebut. Ibaratnya, jika Kau mandi dengan air yang Kau ambil dari sungai, dua ember saja sudah merasa cukup dan bersih. Bandingkan dengan saat mandi dengan air memenuhi bak yang mengalir dari keran. Satu bak habispun mungkin kau tak merasa sayang, merasa tidak apa-apa. Bukan begitu, my dear?

Ya, semua orang tahu bahwa setiap kesusahan akan melahirkan penghargaan yang tinggi. Mengapa nama Bukhari begitu terkenal hingga ke penjuru dunia? Karena ia adalah seorang pakar hadits. Bukan, bukan itu. Selain beliau, masih banyak pakar hadits lainnya. Ya karena dedikasinya terhadap keilmiahan hadits tersebut. Bersusah payah menemui para perawi hadits yang didengar dan dihafalnya. Menyeleksi keshahihan hadits. Bolak-balik dalam perjalanan meneliti hadits. Maka wajar jika generasi selanjutnya menyematkan namanya dengan tinta emas sejarah.Masya Allah.

Masih banyak sekali nama-nama keren lainnya yang akhirnya menjadi rujukan dalam tafsir Alquran ataupun hadits. Maka selanjutnya banyak bermunculan ulama-ulama yang mumpuni di berbagai lini kehidupan.

Segala hal di dunia ini ada harganya. Tinggal tingi atau rendah. Ataupun mahal atau murah.

"Bukan begitu, my dear"

Temanku memandang lama ke arahku sambil terdiam. Aku mengira dia akan bilang, "Teteh, matur nuhun..." atau justru komplain yang lain lagi. Eh, ternyata ia malah mencubit pipiku.

"Hei, selama aku dewasa, tidak pernah ada yang mencubit-cubit pipiku, kamu berani sekali", kataku sambil tersenyum dan ingin balas mencubitnya.

Palembang, 29 April 2014

Senin, 11 Agustus 2014

PEMIMPIN, POHON DAN KAKEK TUA

Oleh: Rika Januarita Haryati

Ada seorang pemimpin sebuah negara di Timur matahari. Pemimpin ini berbeda dengan pemimpin kebanyakan. Ia suka berjalan-jalan sendirian. Ke pasar, ke kedai kopi, ke sawah, ke ladang bahkan ke dusun-dusun. Ia pergi sendiri. Merakyat jelata. Seperti musafir. Tak ada masyarakat yang mengetahui identitas aslinya.

Ia berjalan seperti biasa ke suatu dusun. Di sana ia bertemu dengan ibu-ibu yang cerewet sekali. Bicaranya sangat kasar. Wajahnya sangar. Kalau ia bicara, orang mengira ia sedang kesurupan, saking menggelegar suaranya. Maka, tak ada yang berani menegurnya. Menegur sama saja dengan mencari bala. Musibah.

Celakanya, pemimpin yang tak tahu apa-apa ini menegurnya dengan suara yang sangat lembut sambil tersenyum. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sudah mulai tegang. Karena pasti suara perempuan ini akan menggelegar seperti orang yang kesurupan.

Tapi anehnya, perempuan itu justru membalas teguran sang pemimpin yang menyamar tersebut dengan suara yang lembut dan juga sambil tersenyum.

Ramailah bisik-bisik penduduk menyebarkan kabar bahwa perempuan yang kesurupan itu telah sembuh.

Penduduk merubung di sekitar pemimpin sambil bergantian menceritakan penyakit perempuan yang ditegurnya. Mereka bergantian memujim pemimpin yang telah berhasil menyembuhkannya.

Pemimpin yang menyamar ini mengangguk lalu menjelaskan: "Aku datang kemari tanpa membawa prasangka buruk tentang perempuan itu. Dan taukah kalian, aku sangat suka jika orang lain bicara lemah lembut kepadaku dan aku juga menyukai orang yang tersenyum padaku. Maka aku selalu mencoba memperlakukan orang lain seperti. Mungkin selama ini perempuan hanya belajar dari bagaimana orang-orang memperlakukannya".

Sang pemimpin melanjutkan perjalanan yang ia sebut sebagai rihlah.

Pemimpin ini takjub melihat seorang kakek yang telah renta masih mencangkuli tanah lalu menanam sebuah pohon yang masih kecil..

Sang pemimpin mendekati kakek tua lalu bertanya: "Aduhai kakek, apakah yang kau harapkan dari pohon yang masih kecil ini? Mengapa kau bersibuk menghabiskan waktu untuk hal-hal yang mungkin tidak akan kau nikmati hasilnya?"

Kakek tua memperhatikan sang pemimpin sejenak lalu menjawab, " Mungkin aku tak akan sempat untuk menikmati hasilnya, tapi,cucu-cucuku yang akan menikmatinya. Kau tahu anak muda, hasil pohon yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pohon-pohon yang ditanam oleh kakek-kakek kita? Jika mereka berpikir bahwa percuma saja menanam pohon, maka hari ini kita belum bisa menikmati lezat dan manisnya hasil pohon dan buah-buahan."

Sang pemimpin tertegun. Hari ini Ia mendapat satu pelajaran. Seperti janjinya, yang Ia ikrarkan dalam hati bahwa Ia akan membayar seribu dinar bagi seseorang yang mampu memberinya pengajaran atau pencerahan.

Sang pemimpin mengeluarkan kantung uang yang Ia simpan dibalik bajunya. Ia berkata dengan hormat, " Kakek, terimalah seribu dinar ini, karna kau telah mengajariku satu kaidah hidup yang penting". Sang kakek pun terkekeh, " Lihatlah pohonku telah berbuah dengan sangat cepat, bahkan belum lagi kusiram, kupupuk. Subhanallah."

Sang pemimpin tersenyum. Lalu ia memberikan seribu dinar lagi karena kecerdasannya dan karena ia mendapat satu pengajaran lagi. Bahwa perbuatan baik apapun pasti akan mendapat balasan dari Allah. Maka jangan pernah ragu untuk melakukan kebaikan meskipun kecil dan sederhana.

Palembang, 19 Mei 2014

Minggu, 10 Agustus 2014

MANUSIA YANG SELALU DIUJI

Alangkah berbahagianya kehidupan para 'ulama. Semakin banyak ilmu, semakin rasa takutnya kepada Allah. Semakin berkobar cintanya. Semakin tinggi harapnya pada Allah. Semakin banyak ilmu, semakin rendah hati.

Mereka mengganggap ujian demi ujian adalah jalan yg harus dilalui oleh para kekasih Allah.

Imam Ahmad menjalani hukuman penjara dengan rela dan sabar demi menyelamatkan aqidah umat manusia bhwa Al Quran bukanlah makhluk, ia adalah kalam Allah.

Imam Bukhari rela berjalan menyusuri padang tandus demi mengecek keabsahan sepenggal hadits yg didengarnya. Begitu seterusnya. Tetap sabar meski sangat memayahkan. Dan tentu saja, tak semua hadits berderajat shahih. Setelah jauh2 berkelana, ternyata ia dapati perawi hadits yang pelupa atau berbohong kepada hewan, maka hadits yg ditelitinya akan turun derajatnya.

Tapi, karena lelah itulah Allah mengabadikan nama mereka.

Semakin berilmu seseorang, semakin besar ujian baginya. Seharusnya semakin bersabarlah ia karena sejatinya jalan para nabi sekalipun penuh dengan ujian.

Mereka dibunuh oleh kaum yg dicintainya, ditinggalkan anak istrinya. Dikatakan gila, penyihir,kurang kerjaan, aneh, bodoh, bahkan dilempar dengan kotoran, diludahi setiap melintas disuatu jalan.

Barokallah, bersama ujian ada kabar gembira bagi orang2 yg sabar...

Sabtu, 09 Agustus 2014

KAMU

Oleh: Rika Januarita Haryati

Kamu ini adalah teman yang menemani setiap waktu.

Kamu tak pernah bosan menceritakan kisah-kisah seru

Kamu berjanji akan menjadi sahabat karib hingga maut memisahkan jiwa dari raga


Sahabatku, semoga nanti Engkau datang mencariku

Di hari ketika manusia menyesali dirinya dgn bertubi-tubi.


Jika akhlaqku masih buruk,

jangan marah ya,

tetap setialah memanggilku agar aku terus akrab denganmu..


Jika aku berniat meninggalkanmu maka jangan relakan,

jangan pernah biarkan.

Bisikkanlah kata manikam yg membuat hatiku gembira,

menghilangkan kesedihan dan ketakutan

Jika perlu, tak mengapa kau ingatkan aku sampai menangis

Teruslah di dekatku,

memenuhi otak dan pikirku dengan keindahanmu


Saat bulan Rajab purna bercahaya,
14 Mei 2014

Jumat, 08 Agustus 2014

INVESTASI ILMU

Seorang ulama, Al Hafizh Abul A'la al Hamdani menjual rumahnya utk membeli beberapa kitab seharga 60 dinar.

Pada zaman Rasulullah, 1 dinar dpt membeli 1 kambing.

di zaman kini, setelah 1400 th dr zaman kenabian, harga 1 dinar tetap bisa utk membeli 1 kambing.

Subhanallah...
Wajar kalau ulama2 kita pada miskin harta tapi sangat kaya ilmu.

Investasi mereka terhadap ilmu tidak main2. Selain harga, tentu mereka butuh waktu yg tdk sedikit utk mengkajinya.

Nah generasi kita sekaranglah yg menikmatinya semua ilmu2 tersebut.

Mau baca hadits, tinggal buka kitab Shahih Bukhari.Mau tahu tentang Fiqih,Sejarah, Biografi, bahkan sampai di bidang kedokteran, kita punya ulama yg pernah menuangkan ilmu2 pada lembaran buku.

Kita, tinggal baca dan diskusi. Itupun terkadang masih banyak yg malas atau merasa tak punya waktu.

Ah, aku hanya bercermin. Sejatinya, aku sedang mengomeli yg berada dlm cermin..

anak hujan

anak hujan
ceria dibawah sentuhan manis sang hujan