Oleh: Rika Januarita Haryati
Aku ingin ke bulan, katanya. Aku tersenyum. Aku yakin kau bisa ke sana bisikku hati-hati. Bahkan kau bisa memilih mau ke bulan yang mana. Aduhai, mengapa harus bersusah hati kalau hanya ingin ke bulan. Malah bulan yang akan mendatangimu. Tanpa perlu repot-repot, toh dia datang sendiri. Rutin lagi.
Jika ingin ke bulan yang paling cantik dan dewasa itu, tunggulah Januari. Banyak orang yang membuat lagu tentang bulan ini. Bahkan banyak juga orang tua yang memberi nama anaknya dengan nisbat pada bulan ini. Januari adalah bulanku. Apakah kau mau kesana?
Tapi Januari telah berlalu, bukan? Mau secantik apapun, kita pasti akan meninggalkannya. Bahkan terkadang tanpa sempat say goodbye. Ya begitulah. Hidup ini bersiklus. Berputar. Datang hanya untuk kemudian pergi. Lalu datang kembali tapi juga pergi lagi. Dan begitulah seterusnya.
Tentu kau tahu, Januari adalah bulan pertama. Bulan yang paling dinantikan. Ia adalah pionir. Ada sebelas bulan yang ia pimpin berbaris di belakangnya. Bulan lain takkan berani mendahului datang sebelum ia menghabiskan masanya.
Januari dinisbatkan sebagai tahun yang baru. Setiap Ia datang berarti tahun harus berganti. Semua orang berlomba-lomba membuat program hidup selama setahun nanti. Meskipun ada yang kukuh dengan prinpsip let it flow like water. Tak perlu sibuk membuat agenda setahunan. Toh banyak hal tak terduga yang bakal terjadi. Dan aku baru sadar. Ternyata aku kehilangan agenda yang telah kurencanakan untuk tahun ini. Maka, sekarang hanya melaksanakan poin-poin besar yang kuingat. Selebihnya, aha, let it flow like water.
Bermacam tingkah polah orang dalam merayakan Januari. Ada yang sibuk berpesta padahal bencana nasional baru saja melanda. Ada yang mengadakan dzikiran. Ada yang merenung. Ada yang cuma bengong. Ada juga yang menghabiskannya di rumah sakit. Ya namanya juga rupa-rupa kehidupan.
Januari adalah bulanku. Bulanku yang turuncu (orange). Bulan yang menawarkan keramahan sekaligus semangat. Penuh gegap gempita dan gelora. Membungkus cita-cita dalam optimisme. Cerah meski sesekali rinai.
Bulan ini jua yang membasuh luka-luka. Mengobati segala kerinduan. Membentangkan harapan. Yang paling terpenting, di bulan ini aku mendapat banyak hadiah yang paling indah. Doa. Aku didoakan orang-orang, tulus tanpa kuminta. Mendoakan agar aku selamat dunia akhirat. Agar umurku berkah. Mereka ingat pada bulan ini saja aku sudah bahagia apalagi ditambah doa. Doa yang baik adalah cermin hati seseorang yang baik. Yang selalu berharap agar saudaranya selalu berada dalam kebaikan. Oh, terima kasih banyak.
Aku tahu, laki-laki terkasih meninggalkanku pada bulan ini. Aku masih merasakan kesedihannya hingga sekarang bahkan sampai kapan pun. Setiap mengenangnya, airmataku berderai. Seolah ingin membelai sayang dan menyuruhku bersabar. Karena ia tak mungkin memintaku untuk melupakannya. Bukan, bukan karena aku tak ikhlas. Tapi dia memang sangat berharga dalam kehidupanku.
Dia mengajarkanku tentang kejujuran bahkan saat aku belum memahami kosakata yang banyak. Ia yang mudah tersenyum. Ia yang tak pernah sekalipun kulihat menangis. Ia yang paling tampan. Ia yang kesabarannya laksana gunung. Ia juga yang menambahkan Januari sebagai namaku. Dan itu adalah nama panggilan kesayangan Pak RT kami. Thank you so much Pa, for everything. Aku sedang membuat hadiah spesial untukmu. Soal Bunda, kau tak perlu khawatir. Ia perempuan terbaik yang pernah kulihat. Ia perempuan pejuang.
Overall, bagiku Januari adalah bulan turuncu (orange). Seperti orange, ia kadang manis, asam, ceria, sendu, namun tetap bersinar. Aku suka Januari. Meski kota-kota meriah dengan segala pesta dan hura-hura tapi sejatinya ia itu sangat bersahaja.
Aku masih percaya, duhai bulanku, kau memimpin yang lainnya dalam perjalanan yang panjang. Semoga kau tak bosan menyaksikan manusia yang beranak pinak namun menyambutmu dengan kebahagiaan semu dari generasi ke generasi. Padahal, sejatinya kau itu sederhana. Tak perlu ada pesta. Tak perlu kembang api. Tak perlu bakar jagung. Karena tanpa itu semua kau telah punya keanggunanmu sendiri. Sinar sendiri.
Ba’da imtihaahun.
Palembang, 14 Juni 2013 pk.16.23
Minggu, 30 Juni 2013
ANUGRAH
Oleh: Rika Januarita Haryati
Indah di mata, mengapa tak indah di hati? Indah di jiwa, mengapa tak indah di diri? Indah di mata nan indah di hati. Anugrah. Sesuatu yang diberikan Sang Pencipta, itulah anugrah. Setiap kita mempunyai anugrah yang berbeda. Mata jelita, tentu itu adalah anugrah. Badan yang gagah itu pun anugrah. Bagaimana karakter fisik kita, itu anugrah. Lahir dari orang tua mana itu anugrah. Semua yang diberikan pencipta begitu saja adalah anugrah.
Oh, apakah lantas wajib sedu sedan jika pada diri tidak dianugrahi wajah nan cantik, mata jelita, orang tua kaya dan terpandang?apakah lantas wajib menekuk diri jikalau tidak dianugrahi wajah tampan, badan atletis, orang tua terhormat dan tajir? Apakah harus merasa menjadi orang malang sedunia jikalau tidak dianugrahi hal-hal hebat yang dimiliki para pesohor-pesohor yang sering muncul di televisi?
Ya tentu tidak. Karena ada anugrah yang sangat bisa kita usahakan. Anugrah ini jauh lebih hebat dan lebih hakiki. Pesonanya jauh lebih kuat. Pengaruhnya sangat dahsyat. Semua orang boleh memilikinya. Tak peduli bagaimana rupanya, anak siapa, tinggal dimana, suku apa, dan lain-lain. Bahkan umur pun tak menjadi soal.
Baiklah, orang-orang familiar menyebut anugrah ini dengan inner beauty. Apa saja perangkat inner beauty? Attitude, sikap dan pemikiran. Sopan santun itu jauh lebih mempesona ketimbang cantik tapi attitude-nya amburadul. Lemah lembut, penyayang, tulus itu jauh lebih keren ketimbang tampan, kaya, tapi kasar, acuh, sombong.
Memang sih akan lebih keren lagi kalau wajah rupawan, kaya, terhormat, terpandang ditambah baik, sopan, ramah, emosinya bagus, religius, murah senyum dan dewasa serta bijaksana pemikirannya. Itu kerennya pol. Tapi sayangnya, zaman sekarang ini agak susah menemukan permata mutu manikam seperti itu. Yang sering terlihat itu, kalau kaya cenderungnya sombong, gengsi tinggi, tinggi hati (halah ini apa bedanya dengan sombong ya..). Kalau cantik atau tampan cenderungnya meremehkan orang yang menurutnya tidak rupawan. Kalau anak orang terpandang cenderung bergaya selebritas. Pengen tampil melulu, ups.
Baik kembali ke anugrah yang bisa diusahakan tadi. Semua bisa diusahakan. Kalau memang mau. Mau mempunyai sifat sabar. Tak ada usaha yang lebih mumpuni selain selalu bersabar dalam menghadapi ujian, kemarahan, ketergesa-gesaan. Kalau ingin mempunyai sifat yang dermawan ya tidak ada cara lain selain berbagi dengan orang lain. Kalau ingin religius, mau tak mau harus membiasakan diri dengan aturan-aturan dalam agama. Tapi pasti berat. Ya iyalah. Dimana-mana yang namanya awal, pasti terasa berat. Tapi lama-lama kita akan terbiasa. Lama-lama terasa ringan. Ibarat membawa beban lima kilo, awal-awal tentu saja berat. Tapi jika sudah terbiasa akan terasa ringan. Bahkan bisa jadi ketika bebannya ditambah pun kita tidak merasa berat.
Ajaibnya, banyak manusia yang lebih tertarik dengan anugrah yang memancar dari dalam ini. Orang-orang inner beauty ini lebih kita butuhkan untuk menjadi teman karib. Bukan hanya teman sekedar have fun. Dan kebanyakan nih, hubungan kita dengan orang-orang yang memiliki anugrah inner beauty ini akan terjalin jauh lebih lama
ketimbang yang hanya sekedar memiliki anugrah outer beauty.
Palembang, 5 Juni 2013 pk. 06.24
Indah di mata, mengapa tak indah di hati? Indah di jiwa, mengapa tak indah di diri? Indah di mata nan indah di hati. Anugrah. Sesuatu yang diberikan Sang Pencipta, itulah anugrah. Setiap kita mempunyai anugrah yang berbeda. Mata jelita, tentu itu adalah anugrah. Badan yang gagah itu pun anugrah. Bagaimana karakter fisik kita, itu anugrah. Lahir dari orang tua mana itu anugrah. Semua yang diberikan pencipta begitu saja adalah anugrah.
Oh, apakah lantas wajib sedu sedan jika pada diri tidak dianugrahi wajah nan cantik, mata jelita, orang tua kaya dan terpandang?apakah lantas wajib menekuk diri jikalau tidak dianugrahi wajah tampan, badan atletis, orang tua terhormat dan tajir? Apakah harus merasa menjadi orang malang sedunia jikalau tidak dianugrahi hal-hal hebat yang dimiliki para pesohor-pesohor yang sering muncul di televisi?
Ya tentu tidak. Karena ada anugrah yang sangat bisa kita usahakan. Anugrah ini jauh lebih hebat dan lebih hakiki. Pesonanya jauh lebih kuat. Pengaruhnya sangat dahsyat. Semua orang boleh memilikinya. Tak peduli bagaimana rupanya, anak siapa, tinggal dimana, suku apa, dan lain-lain. Bahkan umur pun tak menjadi soal.
Baiklah, orang-orang familiar menyebut anugrah ini dengan inner beauty. Apa saja perangkat inner beauty? Attitude, sikap dan pemikiran. Sopan santun itu jauh lebih mempesona ketimbang cantik tapi attitude-nya amburadul. Lemah lembut, penyayang, tulus itu jauh lebih keren ketimbang tampan, kaya, tapi kasar, acuh, sombong.
Memang sih akan lebih keren lagi kalau wajah rupawan, kaya, terhormat, terpandang ditambah baik, sopan, ramah, emosinya bagus, religius, murah senyum dan dewasa serta bijaksana pemikirannya. Itu kerennya pol. Tapi sayangnya, zaman sekarang ini agak susah menemukan permata mutu manikam seperti itu. Yang sering terlihat itu, kalau kaya cenderungnya sombong, gengsi tinggi, tinggi hati (halah ini apa bedanya dengan sombong ya..). Kalau cantik atau tampan cenderungnya meremehkan orang yang menurutnya tidak rupawan. Kalau anak orang terpandang cenderung bergaya selebritas. Pengen tampil melulu, ups.
Baik kembali ke anugrah yang bisa diusahakan tadi. Semua bisa diusahakan. Kalau memang mau. Mau mempunyai sifat sabar. Tak ada usaha yang lebih mumpuni selain selalu bersabar dalam menghadapi ujian, kemarahan, ketergesa-gesaan. Kalau ingin mempunyai sifat yang dermawan ya tidak ada cara lain selain berbagi dengan orang lain. Kalau ingin religius, mau tak mau harus membiasakan diri dengan aturan-aturan dalam agama. Tapi pasti berat. Ya iyalah. Dimana-mana yang namanya awal, pasti terasa berat. Tapi lama-lama kita akan terbiasa. Lama-lama terasa ringan. Ibarat membawa beban lima kilo, awal-awal tentu saja berat. Tapi jika sudah terbiasa akan terasa ringan. Bahkan bisa jadi ketika bebannya ditambah pun kita tidak merasa berat.
Ajaibnya, banyak manusia yang lebih tertarik dengan anugrah yang memancar dari dalam ini. Orang-orang inner beauty ini lebih kita butuhkan untuk menjadi teman karib. Bukan hanya teman sekedar have fun. Dan kebanyakan nih, hubungan kita dengan orang-orang yang memiliki anugrah inner beauty ini akan terjalin jauh lebih lama
ketimbang yang hanya sekedar memiliki anugrah outer beauty.
Palembang, 5 Juni 2013 pk. 06.24
Sabtu, 28 Juli 2012
APRESIASI
Oleh: Rika Januarita Haryati
Aku suka sekali surat An Nisa. Do you know why? Karena An Nisa itu menceritakan tentang WANITA. Aku juga suka surat yang lain, tapi An Nisa itu paling istimewa. Allah sangat memuliakan wanita. Mana ada surat Ar Rijal? Nggak ada kan?
Di surat An Nisa itu terkandung tentang hukum-hukum, larangan memakan riba, ciri orang bertakwa, kematian hanya akan terjadi dengan izin Allah, makna kesuksesan yang sesungguhnya, perintah untuk bertakwa dan memelihara hubungan kekerabatan, perintah untuk memelihara harta anak yatim, balasan bagi mereka yang kikir, ampunan Allah dan surga bagi orang-orang yang bertakwa, anjuran menafkahkan sebagian harta yang dicintai dan larangan mengambil yahudi sebagai teman kepercayaan. Itulah ciri surah An Nisa. Alhamdulillah…ternyata al Quran itu kaya dengan surat-surat yang bermakna.
(Amira, Kelas V SDIT Al Uswah)
Cerita diatas kukutip dari tulisan seorang anak SD kelas V. Subhanallah. Tulisannya sepertinya biasa saja. tapi aku benar-benar dibuat takjub dan sangat terkesan. saat masih sebelia itu, Amira telah sibuk menuliskan surah yang paling ia sukai dalam Al Quran. Lalu dengan lugas menceritakan poin-poin yang terkandung dalam surah tersebut. Ah, subhanallah. Kau tahu Amira, aku juga suka sekali dengan surah tersebut.
Oh iya, biar kutambahkan sedikit hal lagi tentang poin surat An Nisa. Tentang mahar, warisan, thalaq, para perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, taat pada Allah, rasul dan ulil amri, perang di jalan Allah, kisah orang munafik, adab salam penghormatan, qasar sholat, sholat khauf, balasan kebajikan, dll. Sungguh, sangat kompleks sekali. Ya, karena perempuan itu sangat spesial.
(Apresiasiku atas tulisan Amira di atas)
Apresiasi. Apa yang kau pikirkan dari kata ini. Penghargaan. Kepada siapapun. Terkait kebajikan dan bahkan usaha kebajikan seseorang yang coba ia lakoni. Meskipun ia hanya seorang anak kecil yang sekali lintas mungkin tak memiliki pengaruh sedikitpun bagi kita.
Tapi, tahukah kau, bahwa apresiasi kita adalah pedomannya melangkah ke depan? Apakah akan tetap menyukai kebaikan atau melupakannya. Apakah akan tetap menyimpan kesan-kesan kebaikan diatas lembar-lembar kertas atau membuangnya. Apakah akan menjadikan kebaikan sebagai pilihan hidupnya? Atau lupakan semua. Ikuti saja arus yang paling deras. Dan semua selesai.
Apresiasi adalah penghargaan. Sederhananya begitu. Meski hanya dengan mengucapkan terima kasih karna si kecil telah membantu kita mengambilkan pena. Meski hanya dengan berkata: 'Nadiya baik deh mau bantu Amah'. Atau dengan senyum semanis gula saat si kecil membagi makananannya kepada temannya. Atau lagi, meski hanya dengan sapaan "hai cantik" saat si kecil melintas di hadapan kita. Percayalah, semua itu menunjukkan apresiasi kita. Dan yakinlah, ia pun sedang belajar mengapresiasi orang lain sejak dini.
Yakinlah, takkan berkurang wibawa hanya karena kita menghargai orang lain. Menghargai tindakannya, pemikirannya, nasehatnya, kritikannya dan perasaannya. Menghargai setiap usahanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Menghargai setiap lelucon yang dilontarkannya meski terasa garing. Hargailah setiap tawa. Pun jikalau akhirnya ada kisah yang menitikkan air mata. Hargailah apa-apa yang patut mendapat penghargaanmu. Karna bisa jadi ketepatan penghargaanmu adalah kebahagiaan bagi seseorang.
Siapa yang mampu membeli apresiasi? Tidak ada. Secanggih apapun global market di dunia ini nantinya, apresiasi tidak pernah dijual. Jika ada yang terang-terang menyebutkan mampu menjual dan menyebutkan harga nominal dari apresiasi, maka pastinya itu bukan apresiasi, itu kepalsuan. Karena sejatinya apresiasi itu dari hati. Maka, kau yang merasa telah dihargai, baiknya bisa membalas menghargai dengan penghargaan yang lebih baik atau yang sepadan.
Apresiasi itu milik siapa saja. Dia bisa diberikan kepada siapa saja. Mana peduli ia kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau biasa. Tapi tentu saja yang mendapat apresiasi itu selalu adalah orang-orang yang bergerak untuk perubahan, orang-orang yang teguh pada prinsipnya, orang-orang baik, orang yang sabar, orang yang bermanfaat bagi sesama, seorang ibu yang baik, istri yang sholihah, suami dan ayah yang mencari nafkah dengan halal, orang-orang yang menjaga kehormatan diri, anak-anak, pejabat yang adil, pekerja yang amanah, dll. Tentu, masih banyak kriteria lainnya.
Ya, semua berhak mendapatkannya. Semua kebaikan dan yang menjalani kebaikan berhak atas setiap apresiasi. Tidak main-main, bahkan mereka inipun telah mendapat apresiasi langit. Mereka adalah orang-orang beruntung yang diapresiasi langit dengan balasan yang lebih baik. Bahkan tak jarang apresiasi itu adalah surga.
Kecil dan sederhana saja awalnya. Hanya dari apresiasi. Tapi memang tak mudah memberikan apresiasi. Butuh jiwa yang lapang. Butuh pemahaman akan kebaikan. Butuh hati untuk mengapresiasi. Karna apresiasi tanpa hati pasti terasa basi.
(Sungguh Amira, terima kasih atas tulisanmu tentang surat An Nisa, aku jadi banyak merenung tentang banyak hal).
Tugumulyo OKI, 29 Juli 2012/8 Ramadhan
Aku suka sekali surat An Nisa. Do you know why? Karena An Nisa itu menceritakan tentang WANITA. Aku juga suka surat yang lain, tapi An Nisa itu paling istimewa. Allah sangat memuliakan wanita. Mana ada surat Ar Rijal? Nggak ada kan?
Di surat An Nisa itu terkandung tentang hukum-hukum, larangan memakan riba, ciri orang bertakwa, kematian hanya akan terjadi dengan izin Allah, makna kesuksesan yang sesungguhnya, perintah untuk bertakwa dan memelihara hubungan kekerabatan, perintah untuk memelihara harta anak yatim, balasan bagi mereka yang kikir, ampunan Allah dan surga bagi orang-orang yang bertakwa, anjuran menafkahkan sebagian harta yang dicintai dan larangan mengambil yahudi sebagai teman kepercayaan. Itulah ciri surah An Nisa. Alhamdulillah…ternyata al Quran itu kaya dengan surat-surat yang bermakna.
(Amira, Kelas V SDIT Al Uswah)
Cerita diatas kukutip dari tulisan seorang anak SD kelas V. Subhanallah. Tulisannya sepertinya biasa saja. tapi aku benar-benar dibuat takjub dan sangat terkesan. saat masih sebelia itu, Amira telah sibuk menuliskan surah yang paling ia sukai dalam Al Quran. Lalu dengan lugas menceritakan poin-poin yang terkandung dalam surah tersebut. Ah, subhanallah. Kau tahu Amira, aku juga suka sekali dengan surah tersebut.
Oh iya, biar kutambahkan sedikit hal lagi tentang poin surat An Nisa. Tentang mahar, warisan, thalaq, para perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, taat pada Allah, rasul dan ulil amri, perang di jalan Allah, kisah orang munafik, adab salam penghormatan, qasar sholat, sholat khauf, balasan kebajikan, dll. Sungguh, sangat kompleks sekali. Ya, karena perempuan itu sangat spesial.
(Apresiasiku atas tulisan Amira di atas)
Apresiasi. Apa yang kau pikirkan dari kata ini. Penghargaan. Kepada siapapun. Terkait kebajikan dan bahkan usaha kebajikan seseorang yang coba ia lakoni. Meskipun ia hanya seorang anak kecil yang sekali lintas mungkin tak memiliki pengaruh sedikitpun bagi kita.
Tapi, tahukah kau, bahwa apresiasi kita adalah pedomannya melangkah ke depan? Apakah akan tetap menyukai kebaikan atau melupakannya. Apakah akan tetap menyimpan kesan-kesan kebaikan diatas lembar-lembar kertas atau membuangnya. Apakah akan menjadikan kebaikan sebagai pilihan hidupnya? Atau lupakan semua. Ikuti saja arus yang paling deras. Dan semua selesai.
Apresiasi adalah penghargaan. Sederhananya begitu. Meski hanya dengan mengucapkan terima kasih karna si kecil telah membantu kita mengambilkan pena. Meski hanya dengan berkata: 'Nadiya baik deh mau bantu Amah'. Atau dengan senyum semanis gula saat si kecil membagi makananannya kepada temannya. Atau lagi, meski hanya dengan sapaan "hai cantik" saat si kecil melintas di hadapan kita. Percayalah, semua itu menunjukkan apresiasi kita. Dan yakinlah, ia pun sedang belajar mengapresiasi orang lain sejak dini.
Yakinlah, takkan berkurang wibawa hanya karena kita menghargai orang lain. Menghargai tindakannya, pemikirannya, nasehatnya, kritikannya dan perasaannya. Menghargai setiap usahanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Menghargai setiap lelucon yang dilontarkannya meski terasa garing. Hargailah setiap tawa. Pun jikalau akhirnya ada kisah yang menitikkan air mata. Hargailah apa-apa yang patut mendapat penghargaanmu. Karna bisa jadi ketepatan penghargaanmu adalah kebahagiaan bagi seseorang.
Siapa yang mampu membeli apresiasi? Tidak ada. Secanggih apapun global market di dunia ini nantinya, apresiasi tidak pernah dijual. Jika ada yang terang-terang menyebutkan mampu menjual dan menyebutkan harga nominal dari apresiasi, maka pastinya itu bukan apresiasi, itu kepalsuan. Karena sejatinya apresiasi itu dari hati. Maka, kau yang merasa telah dihargai, baiknya bisa membalas menghargai dengan penghargaan yang lebih baik atau yang sepadan.
Apresiasi itu milik siapa saja. Dia bisa diberikan kepada siapa saja. Mana peduli ia kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau biasa. Tapi tentu saja yang mendapat apresiasi itu selalu adalah orang-orang yang bergerak untuk perubahan, orang-orang yang teguh pada prinsipnya, orang-orang baik, orang yang sabar, orang yang bermanfaat bagi sesama, seorang ibu yang baik, istri yang sholihah, suami dan ayah yang mencari nafkah dengan halal, orang-orang yang menjaga kehormatan diri, anak-anak, pejabat yang adil, pekerja yang amanah, dll. Tentu, masih banyak kriteria lainnya.
Ya, semua berhak mendapatkannya. Semua kebaikan dan yang menjalani kebaikan berhak atas setiap apresiasi. Tidak main-main, bahkan mereka inipun telah mendapat apresiasi langit. Mereka adalah orang-orang beruntung yang diapresiasi langit dengan balasan yang lebih baik. Bahkan tak jarang apresiasi itu adalah surga.
Kecil dan sederhana saja awalnya. Hanya dari apresiasi. Tapi memang tak mudah memberikan apresiasi. Butuh jiwa yang lapang. Butuh pemahaman akan kebaikan. Butuh hati untuk mengapresiasi. Karna apresiasi tanpa hati pasti terasa basi.
(Sungguh Amira, terima kasih atas tulisanmu tentang surat An Nisa, aku jadi banyak merenung tentang banyak hal).
Tugumulyo OKI, 29 Juli 2012/8 Ramadhan
Kamis, 07 Juni 2012
TERKENANG LINGGAU

Linggau bagiku adalah kota yang sangat ramah. aku sudah beberapa kali kesana, namun setiap kembali lagi kesana selalu ada kesan mendalam yang kusimpan. Di Linggau, banyak kutemui teman-temanku yang dulu pernah berkarya di Palembang, bahkan ada yang memang berasal dari Palembang. Ada keharuan dan kegembiraan tersendiri saat bertemu mereka di tempat yang berbeda.
Linggau selalu mengingatkanku pada satu organisasi kemahasiswaan, KAMMI. Meski baru bergerak ditataran komisariat, KAMMI Komisariat Al Qassam telah menjalankan roda organisasinya dengan baik, setidaknya tidak terlalu tertinggal jauh dengan komisariat yang berada di pusat pergerakan yaitu Palembang. Terlihat betapa enerjik dan semangatnya mereka saat mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh KAMMI Daerah SUMSEL. mereka terkadang naik kereta api dengan lama perjalanan kira-kira 8 jam. it's amazing (padahal kalau pengurus KAMMDA jaulah juga biasa naik kereta api, terkadang malah kelas ekonomi).
Aku telah beberapa kali kesana atas undangan pengurus komisariat. Ya, sebagai utusan KAMMDA. Tapi tak pernah aku merasa lebih dari mereka. Mereka nyapu, aku juga nyapu. Mereka berpeluh diterik matahari siang hari saat outbond, aku juga sama. Mereka makan nasi bungkus, aku juga tak mau dibedakan. Bahkan aku dan Ayie (temanku yang juga utusan KAMMDA) tak segan tidur beralas lantai satu ruangan dengan panitia. Kami melakukan semuanya dengan bahagia. Dan kami juga tidak menutup mata bahwa mereka berusaha dengan keras untuk memberikan layanan yang terbaik. Sungguh, mereka membuatku terharu. Tapi tentu saja aku tahu, bahwa kami yang diutus ini sedianya adalah pelayan, pelayan ummat.
Aku ingat ketika salah seorang pengurus komisariat terlihat sangat repot menyediakan ini itu dan tetek bengek untuk melayani kami. Aku sempat menolak dengan halus dengan mengatakan tidak perlu repot-repot, kami tidak mau merepotkan. Jawaban mereka sangat berkesan sekali bagiku: mbak, kata bibiku, kalau tidak mau merepotkan orang lain, tidak usah berkawan dengan orang. Asli, setelah itu aku pasrah saja mereka mau berbuat apa. yah, mau bagaimana lagi? mereka termasuk orang-orang yang ngotot dalam kebaikan. Terima kasih ya teman-teman KAMMI Komisariat Al Qassam especially Geger, Desri, Silvi, Emilda.
Pada suatu kesempatan, lagi-lagi KAMMDA mengutus aku dan satu temanku yang lain yaitu Umi untuk menghadiri musyawarah komisariat (Muskom). Citra tentang Linggau masih tetap sama. Namun, kami menjadi semakin akrab. Pada detik inilah, kami bisa menikmati keindahan kaki Bukit Sulap. lagi-lagi it's amazing!
Sampai sekarang, bagiku Linggau adalah kota yang ramah, meski aku tak tahu kapan ditakdirkan untuk kembali kesana. Ada banyak wajah yang kucinta, mereka adalah orang yang hatinya baik lagi tulus. Mereka adalah orang yang begitu kami datang, mereka menyambut dengan air wajah yang bahagia. Bahkan ketika kami pulang pun wajah tulus mereka masih tetap terpancar disela-sela wajah letih setelah tiga hari melaksanakan dauroh (pelatihan). Senyum mereka selalu kusimpan dalam-dalam. Mungkin senyum mereka jua yang membuat kerinduanku membuncah. Rasanya ingin kembali ke Linggau. Kembali ke kota yang ramah. Kota yang hangat.
Apa kabarmu hari ini duhai Linggau? Sungguh aku benar-benar merindukan beberapa wajah yang kau kandung.
Tugumulyo OKI, 7 Juni 2012 pk.23.00 WIB



Rabu, 06 Juni 2012
AKU CINTA KAU

Oleh: Rika Januarita Haryati
Aku cinta kau, Hujan
Bukan karna dingin guyuranmu
pada gersang wajah
Bukan karna gagahmu
meluluhlantakkan setiap kepingan hati
Aku tahu, Kau
Memesona mata
Kau, berharga
Kau, setia
Namun bukan karena itu aku cinta kau
Bukan pula karna aku tak bisa hidup tanpa kau
Sungguh bukan..
Aku cinta kau, Hujan..
Karena kau tak henti membagi cinta
Menaburkan rahmatNya
Dan menyentuh hatiku dengan lembut
Meski terkadang kau garang, hujan
Sungguh, cintaku takkan berkurang,
Kan tetap karang
Aku cinta kau...
Hujan
Jumat, 01 Juni 2012
COKLAT
Oleh : Rika Januarita Haryati
Coklat
Tanahmu,
Tempat berpijak
Ia mengajarkan kesederhanaan
Ia menawarkan persahabatan
Coklatmu,
Ia pun menyelipkan kebahagian
Manisnya menghilangkan rasa sakit
Lalu menenangkan
Ia yang bertahta di kulit kayu pepohonan
Gurat kematangan
Melukis ragamnya pengalaman kehidupan
Panas hujan tiada menghadirkan kebimbangan
Ia kan tetap berdiri tegak disana
Menantang badai angkara
Hingga tiba masa undur diri dari semesta
Coklat,
Ialah kekasihmu
Yang setia menunggumu
Di sebalik gundukan tanah basah
Ia yang tak pernah ragu memelukmu
Saat sepi mendekap rapat
Dan hanya ia jua
Sejawat paling karib
Di masa depan
Timbangan Ogan Ilir, 21 April 2011. Pk.06.45 WIB
KISAH CINTA HAJAR DAN IBRAHIM
Oleh: Rika Januarita Haryati
Pernahkah kau mendengar kisah cinta yang mengharu biru? Mungkin Romeo and Juliet menjadi andalanmu? Atau kisah Jack and Rose dalam Titanic? Menurutku, daripada kedua cerita diatas, lebih mengharukan kisah cinta Srintil dan Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Namun, aku tak hendak membicarakan kisah-kisah itu semua. Disini, ada kisah yang luar biasa menantang emosi. Bukan sekedar kisah kiraan. Nyata, bahkan tersimpan dalam kitab. Abadi.
Lelaki itu barusaja mempunyai seorang anak. Anak lelaki kebanggaan. Anak yang telah ditunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan 80 tahun lebih usianya menggurat kerinduan. Dan, baru sekarang Allah mengaruniakannya padanya. Anak. Lelaki. Sukacita, kebahagiaan seolah tak habis memenuhi setiap jengkal kehidupannya. Ia begitu sayang pada anak serta istrinya.
Lalu sang lelaki mendapat mendapatkan pesan terpercaya untuk berkunjung ke Mekkah. Sang lelaki diharuskan membawa serta istri dan anaknya yang masih merah dalam buaian. Ia berangkat dari Palestina menuju Mekkah.
Sesampainya di lembah Mekkah, sang lelaki diharuskan meninggalkan anak dan istrinya. Matanya seketika berkeliling. Hatinya ia besar-besarkan. Jikalau bukan karena iman, takkan mungkin aku tinggalkan mereka kepadamu hai padang pasir panas, gunung batu, tanah gersang. Selaiknya tanah yang tiada kehidupan, Ia berbisik dalam hatinya.
Sang lelaki berbalik. Bersiap kembali ke Palestina. Tiba-tiba istrinya bertanya: “wahai lelakiku, akankah kau tinggalkan kami di sini? Mengapa?” sang lelaki terdiam. Hatinya berdebaran. Sang istri bertanya kembali. Sang lelaki hanya diam. Lalu sang istri kembali bertanya hal yang sama. Dan sang lelaki terdiam untuk ketiga kalinya.
“Allah amaruka bihadza?” Sang istri mencoba menyelami pikiran lelakinya. Sang istri tahu, lelakinya adalah seorang yang terpercaya, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.
Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu? Sang istri masih menelisik gurat kesedihan di wajah lelakinya. Ia melihat, wajah lelakinya memandang langit.
“Allah...”, lelakinya berkata perlahan.
“Kalau begitu hai lelakiku, Allah tidak akan sia-siakan kami. Berangkatlah. Janganlah pikirkan kami. Allah akan menjaga kami. Berangkatlah hai lelakiku.”
Sang lelaki pergi. Ia telah tinggalkan anak dan istrinya di daerah Hudai. Ia selalu menoleh ke belakang, namun tempat tersebut telah terhalang oleh bukit. Airmatanya jatuh. Sang lelaki memanjatkan doa;
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah tempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang suci, ya Rabb kami yang demikian itu agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka, dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur (Q.S Ibrahim : 37)."
xxx
Setelah 4 tahun berlalu, sang lelaki baru diperbolehkan untuk melihat kondisi anak dan istrinya. Namun, Ia hanya boleh melihat dari jauh. Mekkah telah berubah menjadi kampung kecil. Istrinya telah mempunyai rumah, kambing dan telaga. Serta penduduk disana menghormati anak dan istrinya.
Empat tahun kemudian, sang lelaki diperbolehkan menjenguk anak dan istrinya dari dekat, namun ia tidak diperbolehkan turun dari kendaraan. Istrinya mengharu biru melihat kehadiran suaminya yang telah ditunggunya selama 8 tahun. Ia mempersilahkan suaminya turun dari kendaraanjj(tunggangan).
“ turunlah wahai lelakiku. Kita sekarang sudah punya rumah, punya telaga zam-zam, roti dan daging. Ayo turun dan masuklah...”
sang lelaki hanya diam. Ia tak lekas turun dari kendaraannya. Sang istri mengulang kembali perkataannya, sedang sang lelaki tetap tak bergeming.
“Allah amaruka bihadza?” Sang istri mengulang pertanyaannya 8 tahun yang lalu.
“Iya, ini perintah Allah. Aku diperbolehkan menengokmu, tapi aku belum diperkenankan untuk turun dari kendaraan ini.” Sang istri tersenyum. Ia tahu, suaminya bukan lelaki biasa.
“Wahai lelakiku, kalau aku membasuh mukamu, membasuh kakimu, membasuh tanganmu membersihkan tubuhmu dari debu-debu dengan air zam-zam ini, dilarang atau tidak?."
“Tidak...” maka sang istri bergegas membasuh tubuh lelakinya dari debu-debu perjalanan.
Sang lelaki tak mampu lagi membendung airmatanya. Maka ia meminta istrinya untuk membasuh mukanya dengan air zam-zam tersebut. Sehingga airmatanya dapat luruh bersama air zam-zam yang membasahi mukanya.
Kurang lebih empat tahun kemudian, sang lelaki kembali datang ke mekkah. Namun kali ini ia turun dari kendaraannya. Bahkan Ia pun bertemu dengan lelaki yang teramat Ia rindukan. Ismail. Putranya gagah. Terlihat kedewasaan yang matang dari sinar wajahnya. Ia dekap erat sang putra tersayang. Ia dekap pula perempuannya. Sungguh, ia mencintai keduanya. Namun sungguh, cinta kepada keduanya tertaut atas nama cinta kepada Rabbnya. Ia yakin Rabbnya tak akan menyia-nyiakan cinta mereka.
Ujian cinta, siapa yang tak pernah melaluinya? Siapa yang tak pernah diuji dengannya? Siapa yang tidak pernah jatuh kedalam cinta? Siapa? Adakah? Tidak. Bahkan setegar Ibrahim pun harus melalui ujian ini. Untuk membuktikan cinta sucinya kepada Rabbnya. Apakah istri dan anak akan melalaikan dari cinta sejatinya? Subhanallah, ternyata tidak. Justru cinta semakin semarak, memenuhi rongga jiwanya. Syahdan. Selamat dan shalawat untukmu duhai ayahanda kami Ibrahim. Kami merindukan sosok kepala keluarga sepertimu. Yang benar-benar mencintai atas nama cinta kepada Rabb semesta alam.
Barakallah duhai Ibunda Hajar. Cintamu adalah cinta yang menguatkan. Bukan cinta yang rapuh dan usai atas ketidakberadaan belahan jiwa disisimu. Cintamu adalah cinta yang menyegarkan meski berpuluh tahun waktu memisahkan. Cintamu adalah kesetiaan yang tak habis meski kau harus bertahan sendiri. Seperti lelakimu, cintamu adalah atas kecintaan kepada Rabb dari lelakimu.
Barakallah, Ismail. Lihatlah, ibunda dan ayahandamu adalah manusia terpilih. Wajarlah jika karaktermu pun mengguratkan dan menyiarkan bahwa kau adalah lelaki yang dewasa dan matang. Karena kaupun adalah manusia terpilih. Selamat dan salam takzimku atas kalian. Keluarga penuh cinta dan keberkahan.
Pernahkah kau mendengar kisah cinta yang mengharu biru? Mungkin Romeo and Juliet menjadi andalanmu? Atau kisah Jack and Rose dalam Titanic? Menurutku, daripada kedua cerita diatas, lebih mengharukan kisah cinta Srintil dan Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Namun, aku tak hendak membicarakan kisah-kisah itu semua. Disini, ada kisah yang luar biasa menantang emosi. Bukan sekedar kisah kiraan. Nyata, bahkan tersimpan dalam kitab. Abadi.
Lelaki itu barusaja mempunyai seorang anak. Anak lelaki kebanggaan. Anak yang telah ditunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan 80 tahun lebih usianya menggurat kerinduan. Dan, baru sekarang Allah mengaruniakannya padanya. Anak. Lelaki. Sukacita, kebahagiaan seolah tak habis memenuhi setiap jengkal kehidupannya. Ia begitu sayang pada anak serta istrinya.
Lalu sang lelaki mendapat mendapatkan pesan terpercaya untuk berkunjung ke Mekkah. Sang lelaki diharuskan membawa serta istri dan anaknya yang masih merah dalam buaian. Ia berangkat dari Palestina menuju Mekkah.
Sesampainya di lembah Mekkah, sang lelaki diharuskan meninggalkan anak dan istrinya. Matanya seketika berkeliling. Hatinya ia besar-besarkan. Jikalau bukan karena iman, takkan mungkin aku tinggalkan mereka kepadamu hai padang pasir panas, gunung batu, tanah gersang. Selaiknya tanah yang tiada kehidupan, Ia berbisik dalam hatinya.
Sang lelaki berbalik. Bersiap kembali ke Palestina. Tiba-tiba istrinya bertanya: “wahai lelakiku, akankah kau tinggalkan kami di sini? Mengapa?” sang lelaki terdiam. Hatinya berdebaran. Sang istri bertanya kembali. Sang lelaki hanya diam. Lalu sang istri kembali bertanya hal yang sama. Dan sang lelaki terdiam untuk ketiga kalinya.
“Allah amaruka bihadza?” Sang istri mencoba menyelami pikiran lelakinya. Sang istri tahu, lelakinya adalah seorang yang terpercaya, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.
Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu? Sang istri masih menelisik gurat kesedihan di wajah lelakinya. Ia melihat, wajah lelakinya memandang langit.
“Allah...”, lelakinya berkata perlahan.
“Kalau begitu hai lelakiku, Allah tidak akan sia-siakan kami. Berangkatlah. Janganlah pikirkan kami. Allah akan menjaga kami. Berangkatlah hai lelakiku.”
Sang lelaki pergi. Ia telah tinggalkan anak dan istrinya di daerah Hudai. Ia selalu menoleh ke belakang, namun tempat tersebut telah terhalang oleh bukit. Airmatanya jatuh. Sang lelaki memanjatkan doa;
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah tempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang suci, ya Rabb kami yang demikian itu agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka, dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur (Q.S Ibrahim : 37)."
xxx
Setelah 4 tahun berlalu, sang lelaki baru diperbolehkan untuk melihat kondisi anak dan istrinya. Namun, Ia hanya boleh melihat dari jauh. Mekkah telah berubah menjadi kampung kecil. Istrinya telah mempunyai rumah, kambing dan telaga. Serta penduduk disana menghormati anak dan istrinya.
Empat tahun kemudian, sang lelaki diperbolehkan menjenguk anak dan istrinya dari dekat, namun ia tidak diperbolehkan turun dari kendaraan. Istrinya mengharu biru melihat kehadiran suaminya yang telah ditunggunya selama 8 tahun. Ia mempersilahkan suaminya turun dari kendaraanjj(tunggangan).
“ turunlah wahai lelakiku. Kita sekarang sudah punya rumah, punya telaga zam-zam, roti dan daging. Ayo turun dan masuklah...”
sang lelaki hanya diam. Ia tak lekas turun dari kendaraannya. Sang istri mengulang kembali perkataannya, sedang sang lelaki tetap tak bergeming.
“Allah amaruka bihadza?” Sang istri mengulang pertanyaannya 8 tahun yang lalu.
“Iya, ini perintah Allah. Aku diperbolehkan menengokmu, tapi aku belum diperkenankan untuk turun dari kendaraan ini.” Sang istri tersenyum. Ia tahu, suaminya bukan lelaki biasa.
“Wahai lelakiku, kalau aku membasuh mukamu, membasuh kakimu, membasuh tanganmu membersihkan tubuhmu dari debu-debu dengan air zam-zam ini, dilarang atau tidak?."
“Tidak...” maka sang istri bergegas membasuh tubuh lelakinya dari debu-debu perjalanan.
Sang lelaki tak mampu lagi membendung airmatanya. Maka ia meminta istrinya untuk membasuh mukanya dengan air zam-zam tersebut. Sehingga airmatanya dapat luruh bersama air zam-zam yang membasahi mukanya.
Kurang lebih empat tahun kemudian, sang lelaki kembali datang ke mekkah. Namun kali ini ia turun dari kendaraannya. Bahkan Ia pun bertemu dengan lelaki yang teramat Ia rindukan. Ismail. Putranya gagah. Terlihat kedewasaan yang matang dari sinar wajahnya. Ia dekap erat sang putra tersayang. Ia dekap pula perempuannya. Sungguh, ia mencintai keduanya. Namun sungguh, cinta kepada keduanya tertaut atas nama cinta kepada Rabbnya. Ia yakin Rabbnya tak akan menyia-nyiakan cinta mereka.
Ujian cinta, siapa yang tak pernah melaluinya? Siapa yang tak pernah diuji dengannya? Siapa yang tidak pernah jatuh kedalam cinta? Siapa? Adakah? Tidak. Bahkan setegar Ibrahim pun harus melalui ujian ini. Untuk membuktikan cinta sucinya kepada Rabbnya. Apakah istri dan anak akan melalaikan dari cinta sejatinya? Subhanallah, ternyata tidak. Justru cinta semakin semarak, memenuhi rongga jiwanya. Syahdan. Selamat dan shalawat untukmu duhai ayahanda kami Ibrahim. Kami merindukan sosok kepala keluarga sepertimu. Yang benar-benar mencintai atas nama cinta kepada Rabb semesta alam.
Barakallah duhai Ibunda Hajar. Cintamu adalah cinta yang menguatkan. Bukan cinta yang rapuh dan usai atas ketidakberadaan belahan jiwa disisimu. Cintamu adalah cinta yang menyegarkan meski berpuluh tahun waktu memisahkan. Cintamu adalah kesetiaan yang tak habis meski kau harus bertahan sendiri. Seperti lelakimu, cintamu adalah atas kecintaan kepada Rabb dari lelakimu.
Barakallah, Ismail. Lihatlah, ibunda dan ayahandamu adalah manusia terpilih. Wajarlah jika karaktermu pun mengguratkan dan menyiarkan bahwa kau adalah lelaki yang dewasa dan matang. Karena kaupun adalah manusia terpilih. Selamat dan salam takzimku atas kalian. Keluarga penuh cinta dan keberkahan.
Langganan:
Postingan (Atom)
anak hujan
ceria dibawah sentuhan manis sang hujan
LabelS
- cerita analisis (2)
- Esai (4)
- Lintasan Pikiran (20)
- Pencerahan (27)
- Perjalanan Hidup (17)
- Politik (1)
- puisi (32)
- Tentang Perempuan (3)