Oleh: Rika Januarita H
Hei pengantin!
Merapatlah sebentar kesini
Aku mau bicara
Dengan bahasa jiwa
Aduhai pengantin,
Menjadi sempurna timbangan agamamu
Berlipatganda pahala kebajikanmu
Menjadi tegar kibaran layar bahteramu
Menerjang badai yang pasti bertandang
Memupus gelombang yang makin menjulang
Hai pengantin,
Kepada pengantin perempuan,
Kutitip salam...
Semoga kau menjadi sebaik-baik perhiasan
Melampaui mata manikam
Ketaatanmu pada Tuhanmu, lalu Rasulmu, lalu belahan jiwamu
Semoga bermuara ke surga
Kepada pengantin lelaki,
Kutitip salam...
Semoga kau mampu mengemban amanah
dari perjanjian maha dahsyat
mitsaqon ghaliza
menjadilah lelaki yang terbaik akhlaknya
menjadi nahkoda dan imam
yakinlah, atas beban berat di pundakmu
semoga Allah memperkenankan surga...
aduhai pengantin,
bangunlah peradaban
siap siagalah menjadi kontributor
dalam amar ma’ruf nahi munkar
duhai pengantin
pada kalian berdua ummat titip pesan
semoga sakinah, mawaddah dan rohmah...
bahagia bahagialah
Karna langit akan memayungi
Bumi kan menari-nari
Bintang berkedip dan berkelip
Matahari pun pijarkan senyum berseri
Semua bertasbih untukmu, pengantin...
Indralaya OI, 14 Pebruari 2011
Kamis, 19 Januari 2012
LAILA
Oleh: Rika Januarita H
Laila,
Tak usahlah kau buat mereka majnun
Kau dicari,
Laksana seteguk cawan penawar dahaga
Kau dicuri,
Namun disimpan dalam hati
Laila
Senyummu adalah arti kemenangan
Bukan perang
Tapi hati yang damai
Bahkan lebih tinggi
Kebahagiaan ukhrawi
Laila,
Mengapa tak jua mengerti
Betapa kau begitu mudah membuat orang bertekuk hati
Lihatlah,
Cintanya sampai gila
Laila,
Kau adalah dunia bagi seseorang
Namun sayang, kau bahkan tak memiliki duniamu
Kecuali sendu yang setia menggayut
Laila,
Gadis yang setia berbaju biru sayu
Wajahmu pun hanya menyemburat sendu
Laila,
Masihkah kau menyimpan sayatan sembilu di hatimu?
Tugumulyo OKI, 8 Januari 2012 pk.11.40
Laila,
Tak usahlah kau buat mereka majnun
Kau dicari,
Laksana seteguk cawan penawar dahaga
Kau dicuri,
Namun disimpan dalam hati
Laila
Senyummu adalah arti kemenangan
Bukan perang
Tapi hati yang damai
Bahkan lebih tinggi
Kebahagiaan ukhrawi
Laila,
Mengapa tak jua mengerti
Betapa kau begitu mudah membuat orang bertekuk hati
Lihatlah,
Cintanya sampai gila
Laila,
Kau adalah dunia bagi seseorang
Namun sayang, kau bahkan tak memiliki duniamu
Kecuali sendu yang setia menggayut
Laila,
Gadis yang setia berbaju biru sayu
Wajahmu pun hanya menyemburat sendu
Laila,
Masihkah kau menyimpan sayatan sembilu di hatimu?
Tugumulyo OKI, 8 Januari 2012 pk.11.40
SECAWAN SAPA...
Oleh: Rika Januarita Haryati
Bisa apakah bunga yang tercerabut dari jambangan?
Bisa apakah pohon yang tiada berbuah nan merindangi?
Bisa apakah rerumputan tanpa air dan embunan?
Bisa apakah hutan tanpa rimba?
Bisa apakah?
Bisa apalagi matari tanpa hujan?
Bagaimanalagi bulan tanpa pungguk?
Adakah bintang tanpa berkas cahaya?
Kemanakah perginya setengah lingkar pelangi?
Aku bertanya...
Tanah, mengapa kau rela diinjak-injak?
Tentu kau tak lebih hina dari yang telah pongah menginjakmu?
Bahkan semua berasal daripadamu?
Aku bertanya...
Tanya,
Yang mungkin tiada harus jawab:
Ah, aku hanya menyapa...
Tugumulyo OKI, Dzulqoidah 1432H
Bisa apakah bunga yang tercerabut dari jambangan?
Bisa apakah pohon yang tiada berbuah nan merindangi?
Bisa apakah rerumputan tanpa air dan embunan?
Bisa apakah hutan tanpa rimba?
Bisa apakah?
Bisa apalagi matari tanpa hujan?
Bagaimanalagi bulan tanpa pungguk?
Adakah bintang tanpa berkas cahaya?
Kemanakah perginya setengah lingkar pelangi?
Aku bertanya...
Tanah, mengapa kau rela diinjak-injak?
Tentu kau tak lebih hina dari yang telah pongah menginjakmu?
Bahkan semua berasal daripadamu?
Aku bertanya...
Tanya,
Yang mungkin tiada harus jawab:
Ah, aku hanya menyapa...
Tugumulyo OKI, Dzulqoidah 1432H
DAMAI NIAN PEDAMARAN
Oleh Rika Januarita Haryati
Pedamaran oh Pedamaran
Serasa negeri perdamaian
Disanalah aku bertandang
Dikediaman bidadari
Yang baik hati lagi baik budi
Senyumnya ramah
Nan suka meriah dengan tawa
Gerimis oh gerimis
Sungguh, kau tak halangi maksud di hati
Tetap kaki ini melaju
Bersama deru
Menerjang angin
Menembus basah yang kuyup
Saat tiba ku disana
Gigil menghilang
Berganti senyum sepenuh wajah
Tawa berderai kemudian
Hingga cerita mengalir berangkai-rangkai
Ah, serasa pulang ke rumah sendiri
Salamku teruntuk ibunda, Bintang Merah, Bidadari
Serta Bintang Hijau yang jauh di pulau seberang
Pasti aku akan rindu rumah ini lagi
Dengan harum bumi yang basah
Sungguh!
Tugumulyo OKI, 1 Januari 2012
Pedamaran oh Pedamaran
Serasa negeri perdamaian
Disanalah aku bertandang
Dikediaman bidadari
Yang baik hati lagi baik budi
Senyumnya ramah
Nan suka meriah dengan tawa
Gerimis oh gerimis
Sungguh, kau tak halangi maksud di hati
Tetap kaki ini melaju
Bersama deru
Menerjang angin
Menembus basah yang kuyup
Saat tiba ku disana
Gigil menghilang
Berganti senyum sepenuh wajah
Tawa berderai kemudian
Hingga cerita mengalir berangkai-rangkai
Ah, serasa pulang ke rumah sendiri
Salamku teruntuk ibunda, Bintang Merah, Bidadari
Serta Bintang Hijau yang jauh di pulau seberang
Pasti aku akan rindu rumah ini lagi
Dengan harum bumi yang basah
Sungguh!
Tugumulyo OKI, 1 Januari 2012
GADIS HUJAN
Oleh: Rika Januarita H
Mereka menari dengan kencang
Menghentak bumi
Meruah
Berkejaran
Gadis pun turut berlari
Namun mereka berhasil membuatnya jatuh kuyup
Hawa dingin berpadu kristal bening
Memantul laksana penyair berpesta kata
Jatuh titik demi titik
Mereka terus menari
Menggempur setapak perjalanan
Bergembira mengangkut panas
merasukkan kedamaian jiwa
Semua tahu,
Mereka berusaha menghibur sekelebat bayangan di sana,
Gadis berbaju biru yang tengah termangu
Gadis itu berlalu
Tergugu
Ia kuyup
Menggigil
Mereka memanggil:
Hei, Gadis!
Kami datang menghiburmu.
Lalu, semua berparade
Dan lalu, orang-orang berhenti dari tugas,
menyaksikan sejenak
Lalupun, semua kembali kekesibukannya yang akut
Namun, gadis itu tetap setia
Mencoba menghitung dingin yang jatuh berderai
Tersenyum dalam ramah
Berterima kasih atas wangi yang tertumpuk lembut
Dengan serak ia akhirnya berkata:
Kalian selalu berhasil membuatku jatuh cinta!
Tugumulyo OKI, 15 Januari 2012
Mereka menari dengan kencang
Menghentak bumi
Meruah
Berkejaran
Gadis pun turut berlari
Namun mereka berhasil membuatnya jatuh kuyup
Hawa dingin berpadu kristal bening
Memantul laksana penyair berpesta kata
Jatuh titik demi titik
Mereka terus menari
Menggempur setapak perjalanan
Bergembira mengangkut panas
merasukkan kedamaian jiwa
Semua tahu,
Mereka berusaha menghibur sekelebat bayangan di sana,
Gadis berbaju biru yang tengah termangu
Gadis itu berlalu
Tergugu
Ia kuyup
Menggigil
Mereka memanggil:
Hei, Gadis!
Kami datang menghiburmu.
Lalu, semua berparade
Dan lalu, orang-orang berhenti dari tugas,
menyaksikan sejenak
Lalupun, semua kembali kekesibukannya yang akut
Namun, gadis itu tetap setia
Mencoba menghitung dingin yang jatuh berderai
Tersenyum dalam ramah
Berterima kasih atas wangi yang tertumpuk lembut
Dengan serak ia akhirnya berkata:
Kalian selalu berhasil membuatku jatuh cinta!
Tugumulyo OKI, 15 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
anak hujan

ceria dibawah sentuhan manis sang hujan
LabelS
- cerita analisis (2)
- Esai (4)
- Lintasan Pikiran (20)
- Pencerahan (27)
- Perjalanan Hidup (17)
- Politik (1)
- puisi (32)
- Tentang Perempuan (3)