Oleh: Rika Januarita Haryati
Pernah seseorang menanyakan kabarmu? Pernah kau ditawari makan? Pernahkah juga seseorang mengajakmu bicara tentang pribadimu? Dan taukah kau bahwa semua itu sebagian besarnya hanya sekedar basa basi? Bagiku, tidak masalah basa basi yang demikian. Setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa kita tidak cuek dengan lingkungan sekitar kita.
Setidaknya kita masih sadar bahwa ada seseorang di samping kita. Mana bisa kita asyik menikmati makanan sendirian, padahal tepat di samping kita ada orang lain yang tidak makan. Selapar apapun kita, pasti kita tergerak untuk menawarinya makan bersama. Apapun jawabannya nantinya. Bahkan ketika Ia mengiyakan tawaran kita tersebut, maka kita telah rela untuk membagi apa yang sudah kita tawarkan padanya. Meski awalnya hanya basa basi. Merasa tidak enak hati. Aku menilai, setidaknya kita telah bersedia berkorban dengan menawarkan sesuatu. Artinya lagi, kita mengakui keberadaan seseorang didekat kita tersebut. Meski kita tidak mengenalnya. Lebih-lebih jika kita mengenalnya.
Namun, bagaimana jika basa basi itu terkait dengan amanah. Pernahkah ada seseorang yang menawari mu amanah dalam struktur organisasi masyarakat non profit ? lalu kau mengiyakan. Kau berpikir bahwa siapa tahu pikiranmu yang sederhana dapat berguna disana. Kau pun sempat membayangkan bahwa dengan cara itulah kau akan bergerak bersama rakyatmu, masyarakatmu. Membina hubungan mesra sesama masyarakat jelata dan termarginalkan. Membangun komunikasi intens untuk menyebarkan fikroh-fikroh agung. Mencerahkan warna kehidupan masyarakat di sekitarmu.
Ya, cita-citamu sangat mulia. Kau ingin segera melaksanakan titah dari visi misi organisasi yang kau geluti. Kau sudah merancang akan berbuat apa demi kemaslahatan bersama. Namun, kau hanya bisa terkejut luar biasa. Saat mendapati nahkodamu melayarkan bahtera sesuka hatinya. Tanpa peduli pada pedoman Anggaran Dasar dan Anggaran Ruman Tangga yang ada. Berlabuh dimana saja sampai berbulan-bulan. Lalu sesekali kembali berlayar. Lalu kembali berhenti di dermaga sunyi tanpa cita sampai-sampai kau mengira bahwa dirimu telah mati. Lalu tiada kabar kapan kapal akan kembali berlayar. Sampai kau sempat berpikir bahwa kapalmu telah usang dan karatan terkikis usia.
Namun, kau selalu berusaha melayarkan kembali. Kau jahit sedikit demi sedikit layar yang robek. Kau seru semua awak agar bersama-sama berjibaku membenahi kapal. Kau usulkan program-program pada nahkoda agar seluruh awak dapat berkumpul membahas apa saja yang prioritas dibenahi. Nahkodamu setuju. Tapi hanya sebatas setuju. Selebihnya adalah tanggung jawabmu. Selebihnya adalah langkah kerja nyata yang melatih kesabaranmu. Selebihnya adalah bulir air mata dan butir keringat yang mengering tersengat terik yang gersang.
Apakah pernyataan setuju bisa dilakukan karena basa basi? Ya, itu mungkin. Bukankah jika bukan basa basi kau takkan bekerja sendiri? Bukankah jikalau kata-kata itu keluar dari jiwa maka ragamu akan tergerak dengan luwesnya? Jika hanya berkata: lakukan yang bisa kau lakukan, kerjakan yang terbaik yang bisa kau kerjakan, lalu kata-kata tersebut tak di lakonkan, tiada diteladankan, bagaimana kita mengerti dengan bijak arti kata-kata puitis tersebut? Jikalau hanya bicara, bukankah burung beo pun bisa?
Lalu, bagaiman lagi jika telah terlanjur berkata “ya”, namun dalam tindakan seolah berkata “tidak”. Basa basikah ini? Masya Allah. Sungguh, hal ini bisa jadi telah memasuki arena ingkar janji.
Ah, ternyata amanah ini hanyalah topeng belaka. Namun kau tak mengerti untuk menutupi dari apa. Kehadiranmu tidak lebih hanya sekedar hiasan belaka. Agar jikalau terjadi peperangan kaulah yang maju pertama-tama. Agar kau pasang badan saat kondisi berubah mencekam dan menakutkan.
Lihatlah, kaum tua memarahimu karena begitu lamban bergerak. Mereka menyudutkanmu karena terlalu menunggu aba-aba dari sang nahkoda. Mereka mencercamu bahwa kau telah mengkhianati amanah. Mereka menudingkan jemari ke mukamu sambil memperingatkan, “hati-hati, amanah inilah yang nantinya akan kau sesali. Maka sebelum terlambat perbaikilah. Jikalau perlu, lengserkan segera nahkodamu. Carilah yang benar-benar bisa melayarkan kapal dengan keberanian. Tak takut badai. Tiada takut karang. Dan tetap waspada menjaga kapal agar tetap berlayar sebagaimana mestinya. Bukan yang sebentar berlayar, lalu berbulan-bulan karam tanpa kepastian.” Kau hanya terdiam sambil tergugu. Lalu batinmu menjerit, Ya Allah, ampunilah aku yang lemah ini.
Lalu tengoklah di sebelah sana. Kaum muda memberontak padamu. Mereka tangkis segala kata-kata permintaan maafmu. Mereka menghujanimu dengan selaksa tanda tanya. Sampai tiada satu pun yang bisa kau jawab. Ya, kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya tameng belaka. Dengarlah, satu persatu kaum mudamu berkeluh kesah. Bahkan mereka tak segan untuk berkata sambil bermuka masam. Kau hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas dalam-dalam. Tapi mereka tak peduli. Kau adalah tempat pelampiasan segala kemarahan yang terpendam atas segala kebosanan dalam penantian.
Kau ingin berteriak. Kau ingin berkata bahwa kau bukan kader inti dalam kapal. Kau tidak tahu apa-apa. Pada merekalah seharusnya kalian bertanya. Mengadu. Meracau. Bahkan kalian bebas menampakkan muka paling kecut sekalipun. Karena sesungguhnya amanah ini tidak diberikan kecuali pada mereka yang telah mencapai maqomnya. Amanah yang telah disepakati didalam sidang kerajaan. Mereka yang senantiasa sanggup memanggul pedang panjang di tangannya. Mereka adalah Athos, Porthos dan Aramis. Tahukah kau siapa mereka? Ya, merekalah three musketeers organisasi ini.
Lalu kau berusaha untuk bersikap dewasa meski sebenarnya kau hanyalah pemuda bahkan pemula. Atau pemuda yang pemula. Atau malah kau tidak tahu menahu letak gerbongmu yang sebenarnya. Kau hanya berjanji ingin menuntaskan amanah ini dengan terpuji. Dengan gentle. Bukan mencari sensasi apalagi mencari aman untuk karir di masa depan. Bukan pula bersembunyi di bayang-bayang legenda masa lalu agar semua orang mencarimu. Apalagi jikalau bersembunyi di balik kata jamaah. Sungguh, kau tidak akan mengerti pembahasan tersebut. Rasanya lebih baik otakmu mencuat ke permukaan agar tak sempat menjadi gila.
Satu pertanyaanmu yang tak kan pernah kau tanyakan. Benarkah ketergantungan kita pada bapak dan ibu menentukan kapan kita mandi, makan, bahkan kencing dan berak? Apakah setiap saat kita harus meminta izin pada keduanya sampai kita mendengar persetujuannya? Ah, ini memang pertanyaan jorok dan konyol. Tapi setidaknya itu adalah pengibaratan yang sangat relevan untuk orang tolol sepertiku agar mampu mencernanya.
Sekarang kau hanya bisa tersenyum. Miris dan meringis. Ah, betapa kejamnya berbasa-basi dengan amanah.
Indralaya OI, Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar